سورة الفاتحة
آية ﴿ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ﴾[ سورة الفاتحة آية:﴿٦﴾]، على قدر ثبوت قدم العبد على هذا الصراط الذي نصبه الله لعباده في هذه الدار، يكون ثبوت قدمه على الصراط المنصوب على متن جهنم. وعلى قدر سيره على هذا الصراط يكون سيره على ذاك الصراط؛ فمنهم من يمر كالبرق، ومنهم من يمر كالطّرف … فلينظر العبد سيره على ذلك الصراط من سيره على هذا؛ حذو القُذَّة بالقُذَّة جزاءً وفاقاً؛ [هل تجزون إلا ما كنتم تعملون) [النمل: 90)]. ابن القيم: 1/35].
“Ayat, “Tunjukilah kami jalan yang lurus,” (QS Al-Fatihah [1]: 6). Yaitu seukuran teguhnya kaki seorang hamba di atas Shirat yang telah dibuatkan oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya di dunia ini, akan sama seperti keteguhan kakinya di atas Shirat yang dibentangkan di atas neraka Jahannam, dan tergantung kepada kemampuan berjalannya di atas Shirat ini (di dunia), maka seperti itulah dia akan berjalan di atas Shirat itu (di akhirat). Di antara mereka ada yang berjalan seperti kilat, dan di antara mereka ada yang berjalan seperti kedipan mata…Maka hendaknya seorang hamba melihat perjalanannya di atas Shirat itu (di akhirat) dari perjalanannya di atas Shirat ini (di dunia); serupa dan sebanding, sebagai balasan yang sesuai. “Kamu tidak diberi balasan, melainkan (setimpal) dengan apa yang telah kamu kerjakan,” (QS An-Naml [27]: 90). (Ibnul Qayyim, 1/35).
آية﴿ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ﴾ [سورة الفاتحة آية:﴿٦﴾] الحاجة إلى الهدى أعظم من الحاجة إلى النصر والرزق؛ بل لا نسبة بينهما؛ لأنه إذا هُدي كان من المتقين، ومن يتق الله يجعل له مخرجا * ويرزقه من حيث لا يحتسب. [ابن تيمية: 1/116]
“Ayat, “Tunjukilah kami jalan yang lurus,” (QS Al-Fatihah [1]: 6), “Kebutuhan kepada petunjuk lebih besar daripada kebutuhan atas kemenangan dan rezeki; dan justru tidak ada perbandingan di antara keduanya; karena jika seseorang telah mendapatkan petunjuk, dia termasuk orang-orang yang bertaqwa (saleh), “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya,” (Ibnu Taimiyah, 1/116).
آية ﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾ ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ﴾ [ سورة الفاتحة آية:﴿٥﴾ ] في قوله: (نعبد) بنون الاستتباع إشعار بأن الصلاة بنيت على الاجتماع]. البقاعي: 1/17.
“Ayat, “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus,” (QS Al-Fatihah [1]: 5-6). Di dalam firman-Nya, (kami menyembah) menggunakan huruf nun al-istitba’ (mutaba’ah/mengikuti) merupakan indikasi bahwa shalat dibangun di atas dasar berjamaah,” (Al-Biqai, 1/17).
آية﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾ [سورة الفاتحة آية:﴿٥﴾] العبادة أعلى مراتب الخضوع ولا يجوز شرعًا ولا عقلا فعلها إلا لله تعالى لأنه المستحق لذلك لكونه موليا لأعظم النعم من الحياة والوجود وتوابعهما. الألوسي: 1/86.
“Ayat “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS Al-Fatihah [1]: 5-6). Ibadah merupakan penyerahan diri tingkat tertinggi, dan tidak diperbolehkan secara syariat dan akal untuk dilakukan kecuali kepada Allah Ta’ala, karena Dia lah yang pantas untuk itu, karena Dia adalah Pemilik nikmat terbesar yaitu kehidupan, keberadaan dan keterikatan antara keduanya (kehidupan dan keberadaan).” (Al-Alusi, 1/86).
آية ﴿إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ﴾ [سورة الفاتحة آية:﴿٥﴾] ذكر الاستعانة بعد العبادة مع دخولها فيها لاحتياج العبد في جميع عباداته إلى الاستعانة بالله تعالى؛ فإن لم يعنه الله لم يحصل له ما يريده من فعل الأوامر واجتناب النواهي. السعدي: 39.
“Ayat, “Hanya kepada Engkaulah kami menyembah, dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS Al-Fatihah [1]: 5-6). Penyebutan “pertolongan” setelah “menyembah” dengan dimasukkan ke dalamnya, karena kebutuhan seorang hamba di dalam (pelaksanaan) semua ibadahnya kepada pertolongan dari Allah Ta’ala; Karena jika Allah tidak menolongnya, maka dia tidak akan mendapatkan apa yang diinginkannya dari melaksanakan perintah dan menjauhi larangan.” (Al-Sa’di, hal. 39).
آية ﴿ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ ﴿٢﴾ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ﴿٣﴾ مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ ﴿٤﴾ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ﴿٥﴾ ٱهْدِنَا ٱلصِّرَٰطَ ٱلْمُسْتَقِيمَ ﴾ [سورة الفاتحة آية:﴿٢-6﴾] لما كان سؤال الله الهداية إلى الصراط المستقيم أجلّ المطالب ونيله أشرف المواهب علّم الله عباده كيفية سؤاله، وأمرهم أن يقدموا بين يديه حمده والثناء عليه، وتمجيده ثم ذكر عبوديتهم وتوحيدهم، فهاتان وسيلتان إلى مطلوبهم: توسل إليه بأسمائه وصفاته، وتوسل إليه بعبوديته. وهاتان الوسيلتان لا يكاد يرد معهما الدعاء. ابن القيم: 1/36
“Ayat, “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan. Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan. Tunjukilah kami jalan yang lurus,” (QS Al-Fatihah [1]: 2-6). Dikarenakan permohonan petunjuk dari Allah kepada jalan yang lurus merupakan permohonan yang mulia dan mendapatkannya merupakan pemberian yang mulia, maka Allah mengajarkan kepada hamba-hamba-Nya bagaimana cara meminta kepada-Nya, dan Dia memerintahkan kepada mereka untuk mempersembahkan pujian dan sanjungan kepada-Nya, dan mengagungkan-Nya, kemudian Dia menyebutkan penghambaan dan ketauhidan mereka. Maka kedua cara ini merupakan dua buah cara yang tidak mungkin sebuah doa akan tertolak.” (Ibnul Qayyim, 1/36).
آية ﴿ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ ﴿٢﴾ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ ﴿٣﴾ مَٰلِكِ يَوْمِ ٱلدِّينِ﴾ [سورة الفاتحة آية:﴿٢-4﴾ كأنه سبحانه يقول: يا عبادي إن كنتم تحمدون وتعظمون للكمال الذاتي والصفاتي فاحمدوني فإني أنا «الله»، وإن كان للإحسان والتربية والإنعام فإني أنا «رب العالمين»، وإن كان للرجاء والطمع في المستقبل فإني أنا «الرحمن الرحيم»، وإن كان للخوف فإني أنا «مالك يوم الدين». الألوسي: 1/86.
“Ayat, “Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Pemilik hari pembalasan,” (QS Al-Fatihah [1]: 2-4). Seolah-olah Allah SWT berfirman, “Wahai seluruh hamba-Ku, jika kalian memuji dan mengagungkan karena kemuliaan Dzat dan shifat-Ku, maka pujilah Aku oleh kalian, karena Aku adalah Allah. Kemudian jika dikarenakan untuk kebaikan, penjagaan dan pemberian, maka sesungguhnya Aku adalah Tuhan seluruh alam. Kemudian jika dikarenakan harapan dan keinginan di masa yang akan datang, maka sesungguhnya Aku adalah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Kemudian jika dikarenakan rasa takut, maka sesungguhnya Aku adalah Pemilik hari pembalasan,” (Al-Alusi: 1/86).
