
Kubah megah berdiameter 15 meter berwarna merah dan bertembok warna hijau Masjid Tuanku Syed Putra Jamalullail (MTSPJ) Kangar, Perlis, menjadi saksi terselenggaranya majelis ilmu yang penuh berkah pada Ahad, 18 Oktober 2026. Di masjid kebanggaan negeri Perlis ini, sebuah ikhtiar intelektual dan spiritual digelar melalui Daurah Al-Qur’an Satu Hari Penuh yang mengkaji secara mendalam peta tematik serta tema pokok 114 surah dalam mushaf mulia.
Kegiatan strategis ini terwujud atas undangan kehormatan dari Pengerusi Ahli Jawatankuasa (Ketua Takmir) MTSPJ, Ustadz Tajul Urus, yang juga mengemban amanah sebagai Wakil Mufti Negeri Perlis. Menghadirkan sinergi keilmuan lintas kawasan, daurah ini membedah karya monumental karya ulama muda Majelis Tarjih dan Tajdid PW Muhammadiyah Jakarta, Ustadz Nur Fajri Romadhon, yang bertajuk Quran Mapping.
Antusiasme jamaah dan penuntut ilmu di Perlis tampak luar biasa. Tidak kurang dari 150 peserta memadati ruang utama majelis sejak pagi hari. Komitmen takmir masjid kian terasa dengan pembagian 100 eksemplar buku Quran Mapping secara cuma-cuma bagi para pendaftar gelombang pertama. Suasana diskusi dan interaksi ilmiah pun berlangsung dinamis dan berbobot; empat peserta terbaik yang aktif berdialektika serta tangkas menjawab pertanyaan ahli panel daurah dianugerahi doorprize berupa buku karya saya, Petunjuk Manusia Pilihan, terbitan Al-Fahmu Institute tahun 2025.

Membaca Wahyu sebagai Peta Jalan Peradaban
Pada sesi pembuka, saya mengantarkan para peserta memasuki cakrawala tadabbur melalui presentasi bertajuk “Nusantara Terang dengan Al-Qur’an: Memahami Tema Besar Wahyu untuk Peradaban Modern”. Sesi ini menegaskan urgensi melihat Al-Qur’an bukan sekadar bacaan ritual yang terfragmentasi, melainkan sebuah cetak biru peradaban yang utuh, progresif, dan mampu menjawab disrupsi zaman moden di belahan bumi Nusantara.
Penulis menekankan pentingnya menjemput cahaya petunjuk Al-Quran sebagai fondasi peradaban. Bertolak dari ayat 9 surah Al-Isra, ayat 82 surah an-Nisa dan ayat 29 surah Shad, saya menegaskan bahwa keberkahan dan kedalaman petunjuk Al-Quran hanya bisa diraih dengan cara perenungan, analisis dan pengamalan nyata (tadabbur) dari struktur maqasid 114 surah Al-Quran, bukan sekedar ritual tilawah pelafalan yang bernilai ibadah. Dengan transformasi cara baca Al-Quran seperti inilah maka dapat menjadi konstitusi moral, pedoman hukum sosial, pembentuk ketahanan mental dan solusi penawar (syifa) bagi krisis peradaban modern.
Sesi inti daurah kemudian dibimbing secara sistematis oleh Ustadz Nur Fajri Romadhon dengan membedah jejaring tematik mushaf berdasarkan uraian buku Quran Mapping (yang diterbitkan oleh AQWAM, tahun 2025).
Cetak Biru Manhaj Sang Khalifah
Sebagai pamungkas majelis daurah Al-Quran, saya menyampaikan materi penutup bertajuk “Tadabbur Maqasid Surah-Surah Al-Qur’an: Peta Jalan Menuju Allah, Cetak Biru Manhaj Sang Khalifah”.
Dalam ulasan penutup tersebut, saya menggarisbawahi bahwa penjelajahan tematik 114 surah ini menghantarkan kita pada satu kesimpulan fundamental: Al-Qur’an diturunkan bukan dalam struktur narasi yang acak, melainkan tersusun rapi sebagai sebuah ekosistem hidayah yang paripurna. Surah-surah Makkiyyah dan Madaniyyah berjalin kelindan membangun integritas tauhid, mengasah ketajaman akal, memperkokoh ketahanan institusi keluarga, hingga memandu tata kelola kekuasaan publik yang adil dan beradab.
Penataan tematik ini menyingkap alur arsitektur ilahiah yang luar biasa memukau:
* Fase Fondasi Mandat Kekhalifahan (Juz 1–10 / Al-Fatihah – At-Taubah): Membentangkan mandat penugasan manusia di muka bumi. Dimulai dari penegasan tauhid dalam Surah Al-Fatihah, pembebanan risalah kekhalifahan yang menuntut kemandirian karakter umat dalam Al-Baqarah, keteguhan di atas kebenaran melawan syubhat dan syahwat dalam Ali ‘Imran, penegakan keadilan sosial serta perlindungan kaum mustadh’afin dalam An-Nisa’, komitmen perjanjian dalam Al-Ma’idah, pemurnian tauhid dalam Al-An’am, hingga keniscayaan pertarungan peradaban (sunnatush-shira’) serta kepastian hukum kemenangan ilahi (sunnatun-nashr wa tamkin) dalam Al-A’raf, Al-Anfal, dan At-Taubah.
• Fase Pematangan Karakter dan Ketahanan Dakwah (Juz 11–21 / Yunus – Al-Kahf): Menitikberatkan pada pembinaan akidah, pembenahan cara pandang (tas-hih at-tashawwurat), etika sosial, serta bekal menghadapi gelombang fitnah. Di sini dipaparkan prinsip keadilan takdir dalam Surah Yunus, istiqamah tanpa kompromi kebatilan dalam Hud, optimisme dan kesabaran strategis menghadapi himpitan ujian dalam Yusuf, kokohnya kebenaran di atas buih kebatilan dalam Ar-Ra‘d, peneguhan jiwa dai dalam Al-Hijr, penunaian syukur atas nikmat dalam An-Nahl, pemindahan tongkat estafet risalah dalam Al-Isra’, dan benteng menghadapi aneka fitnah dalam Al-Kahf.
• Fase Rekayasa Kekuatan dan Adab Umat (Al-Anbiya’ – Luqman): Mempertegas integrasi antara penghambaan murni dan pergerakan dakwah (Al-Anbiya’), persatuan umat melalui syiar agung (Al-Hajj), pengawalan moralitas publik (An-Nur), hingga seruan visioner dalam Surah An-Naml bahwa keberagamaan tidak cukup dengan ritual semata, melainkan wajib menguasai pilar peradaban, ilmu pengetahuan, manajemen, dan kekuatan materi. Hingga pendidikan anak berbasis fitrah dalam Luqman.
• Fase Totalitas Penyerahan Diri (Juz 21–24 / As-Sajdah – Az-Zumar): Menanamkan hakikat penyerahan diri (taslim) secara mutlak kepada syariat Allah, baik dalam kelapangan maupun situasi krisis (Al-Ahzab), kesiapan tunduk pada kebenaran objektif (Shad), dan kemurnian ikhlas lahir-batin (Az-Zumar).
• Fase Ketegasan Transisi dan Peringatan Dakwah (Juz 24–26 / Kelompok Surah Hawamim): Mengingatkan para pengemban risalah akan rintangan dakwah: keharusan bermusyawarah mengatasi perpecahan (Asy-Syura), serta bahaya jebakan materialisme, status sosial, dan arogansi kekuasaan yang kerap membutakan nurani manusia (Az-Zukhruf, Ad-Dukhan, Al-Jatsiyah, Al-Ahqaf).
• Fase Kepemimpinan Nabawi dan Tanggung Jawab Personal (Juz 26–27 / Muhammad – Al-Hadid): Menjadikan ketaatan kepada Rasulullah ﷺ dan penghormatan kepada para sahabat sebagai barometer amal, sebelum menghentakkan kesadaran manusia akan pilihan nasibnya di hadapan hisab Allah (Qaf hingga Al-Waqi‘ah), serta panggilan mewujudkan umat jalan tengah yang seimbang antara ketajaman spiritualitas dan kedigdayaan sains-teknologi materi (Al-Hadid).
• Fase Imunitas Jamaah dan Pembinaan Dai (Juz 28–30 / Al-Mujadilah – An-Nas): Mengokohkan pilar al-wala’ wal-bara’ dan ketahanan keluarga muslim (Juz 28), membedah profil dai teladan berbekal integritas ilmu, adab, serta ibadah (Juz 29), hingga pemurnian akidah dan perbaikan amal hati pada surah-surah pendek (Juz 30) agar manusia selamat mengakhiri etape kehidupannya dengan husnul khatimah.
Seorang muslim yang membaca Al-Qur’an dengan pisau analisis maqasid tidak akan lagi memandang lembaran mushaf secara parsial. Ia akan mendapati bahwa sejak Basmalah halaman pertama pembacaan Surah Al-Fatihah hingga perlindungan pamungkas dalam Surah An-Nas, Al-Qur’an adalah peta navigasi kehidupan: melatih sang khalifah untuk bertambatan lurus kepada Allah di mihrab ibadah, sekaligus menjadi pelopor pembangun peradaban di gelanggang sejarah.
Untuk keperluan itulah saya sedang menyiapkan naskah buku berjudul PESONA AL-QURAN; Tadabbur Maqasid 114 Surah, Panduan Praktis Cetak Biru Manusia Qur’ani yang akan diterbitkan tahun 2027.
Daurah sehari penuh di Kangar ini bukan sekadar kajian tekstual, melainkan sebuah ikhtiar penyegaran visi peradaban Islam di rantau serumpun. Semoga denyut tadabbur dari Perlis ini terus menjalar ke berbagai penjuru Nusantara, menghidupkan kembali tradisi ilmiah yang berakar pada wahyu dan berorientasi pada kemaslahatan umat manusia.
KLIA Sepang, 19 Oktober 2026, Oleh Fahmi Salim, Ketua Divisi Tabligh Global MTPPM
