Ustadz Fahmi Salim: Dakwah Perlu Teguh pada Akidah, Luwes dalam Pendekatan

Ustadz Fahmi Salim: Dakwah Perlu Teguh pada Akidah, Luwes dalam Pendekatan

BANTUL — Dakwah menghadapi tantangan yang tak hanya datang dari penyimpangan teologis, tetapi juga dari pemikiran yang beredar di masyarakat. Karena itu, menurut Dr. (Cand.) Fahmi Salim, Lc, M.A., dai perlu memiliki pijakan akidah yang kuat sekaligus mampu memilih pendekatan yang tepat.

Pandangan tersebut disampaikan Fahmi Salim dalam Pelatihan Nasional Muballigh Muda/Mahasiswa Muhammadiyah (PNM3), Kamis, 22 Oktober 2026, pukul 09.45–11.30 WIB. Dalam sesi bertajuk “Manhaj Dakwah Muhammadiyah versus Aliran Menyimpang” itu, Fahmi membahas fikih dakwah serta tantangan pemikiran klasik dan kontemporer terhadap dakwah Islam.

Fahmi, Ketua Bidang Tabligh Global Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (Uhamka) Jakarta, membagi persoalan yang disebutnya sebagai penyimpangan agama ke dalam dua kategori: teologis dan pemikiran. Ia mencontohkan perdebatan mengenai LGBT sebagai tantangan pemikiran kontemporer, termasuk gagasan kebebasan atas ketertarikan seksual yang kerap dirumuskan dengan slogan “my body is mine”.

Menghadapi perbedaan dan tantangan tersebut, Fahmi menekankan pentingnya tauhid sebagai landasan dakwah. Ia mengingatkan para dai agar tidak menempatkan Islam sekadar sebagai gaya hidup, melainkan sebagai pedoman hidup. Dalam kerangka itu, tajdid—pembaruan yang berpijak pada pemurnian akidah—menjadi cara Muhammadiyah menjawab perubahan tanpa melepaskan prinsip dasar agama.

Tauhid dan Tajdid, seperti ditegaskan oleh Fahmi Salim dalam PNM3, “adalah antibodi ideologis bagi seluruh kader Muhammadiyah, baik warga maupun pimpinan di setiap tingkatan, dalam menghadapi tantangan pemikiran Islam.”

“Islam sebagai way of life,” demikian salah satu penekanan materi Fahmi. Ia menjelaskan, dakwah Muhammadiyah tidak berhenti pada ceramah atau penyampaian pesan secara lisan. Dakwah juga diwujudkan melalui kerja sosial dan pemberdayaan, antara lain melalui sekolah, rumah sakit, panti asuhan, serta program ekonomi.

Institusi-institusi tersebut, menurut Fahmi, perlu tetap berpijak pada pandangan hidup tauhid. Dengan begitu, dakwah hadir bukan hanya sebagai pesan keagamaan, melainkan juga sebagai praktik yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Namun, keteguhan prinsip tidak berarti dai harus bersikap keras kepada setiap orang yang berbeda pandangan. Fahmi menggarisbawahi perlunya keseimbangan antara ketegasan dalam akidah dan keluwesan dalam memilih metode, sarana, serta pendekatan sesuai kondisi sosial dan budaya masyarakat.

Ia juga mengingatkan bahwa upaya mencegah kemungkaran tidak semestinya justru melahirkan persoalan baru. “Pelaksanaan nahi munkar tidak boleh menghadirkan kemungkaran yang baru,” demikian rumusan dalam materi tersebut.

Dalam praktik gerakan, Fahmi menguraikan tiga prinsip: tajdid, taysir, dan tadrij. Tajdid berarti pembaruan yang berakar pada pemurnian sekaligus keberanian merespons persoalan mutakhir secara kritis. Taysir menekankan bahwa syariat bertujuan menghadirkan kemaslahatan, bukan mempersulit umat. Adapun tadrij mengajarkan perubahan dilakukan secara bertahap, terencana, dan sesuai keadaan.

Selain membincang fikih dakwah dalam manhaj Muhammadiyah, Fahmi juga menyoroti isu-isu aliran teologis dan pemikiran yang menyimpang seperti: sinkretisme, neo-sufisme, pluralisme agama, liberalisme, feminisme radikal, ahmadiyah, bahaiyah, syiah imamiyah, kristenisasi/pemurtadan gaya baru, ateisme komunisme, hingga gerakan transnasional LGBTQ.

Materi tersebut diikuti peserta PNM3 dari sejumlah perguruan tinggi di Pulau Jawa dan Sumatera. Bagi para peserta, pembahasan itu menempatkan dakwah sebagai kerja yang menuntut dua hal sekaligus: keteguhan pada prinsip dan kecakapan membaca masyarakat.

Berita & Peristiwa
Wawasan
October 22, 2026

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Leave a Reply

×