Fajar Setelah Senja; Masa Depan Peradaban “Masih” Milik Islam (Bagian 2)

Keterasingan yang Melahirkan Peradaban

Apabila peradaban modern sedang mengalami kelelahan, apakah itu berarti dunia sedang bergerak menuju kekacauan tanpa akhir?

Tidak sedikit orang yang memandang masa depan dengan penuh kecemasan. Berita yang datang silih berganti seakan menguatkan kesan itu. Perang, krisis pangan, kerusakan lingkungan, konflik identitas, dan ketidakpastian ekonomi dianggap sebagai pertanda bahwa umat manusia sedang berjalan menuju sebuah zaman yang semakin gelap.

Namun Islam mengajarkan cara membaca sejarah yang berbeda.

Seorang Muslim tidak membaca sejarah hanya melalui statistik ekonomi, kekuatan militer, atau grafik pertumbuhan teknologi. Ia membacanya melalui sunnatullah, yaitu hukum-hukum Allah yang mengatur perjalanan umat manusia. Dalam perspektif inilah hadis-hadis Nabi ﷺ tentang akhir zaman memperoleh makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar rangkaian prediksi masa depan.

Salah satu hadis yang paling sering disalahpahami adalah sabda Rasulullah ﷺ:

“Islam bermula dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing sebagaimana ia bermula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing.”

Selama ini hadis tersebut sering dipahami secara sempit. Sebagian orang membayangkannya sebagai kabar bahwa umat Islam akan terus hidup dalam keterasingan hingga akhir zaman. Seolah-olah menjadi Muslim berarti menerima nasib sebagai kelompok yang selalu kecil, lemah, dan tersisih di pinggiran sejarah.

Padahal, jika hadis ini dibaca secara utuh, justru maknanya sangat berbeda.

Ketika para sahabat bertanya, “Siapakah orang-orang yang asing itu, wahai Rasulullah?”, beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak manusia.”

Dalam riwayat lain disebutkan: “Mereka adalah orang-orang yang melakukan perbaikan ketika manusia telah rusak.”

Perhatikan baik-baik.

Rasulullah ﷺ tidak mendefinisikan ghurabā’ sebagai orang-orang yang menyendiri dari masyarakat. Beliau juga tidak menggambarkan mereka sebagai kelompok yang menikmati keterasingan. Sebaliknya, mereka adalah para pembaru, para pemberani, orang-orang yang hadir untuk memperbaiki kerusakan dan mengembalikan kehidupan kepada jalan yang benar.

Di sinilah letak kabar gembira yang sering luput dari perhatian. Keterasingan bukanlah tujuan. Ia hanyalah fase awal sebelum lahirnya sebuah perubahan besar.

Bukankah demikian pula yang terjadi pada generasi pertama Islam?

Ketika Nabi Muhammad ﷺ memulai dakwah di Makkah, kaum Muslim hanyalah kelompok kecil yang dipandang asing oleh masyarakatnya sendiri. Mereka tidak memiliki kekuatan politik, tidak memiliki kekuatan ekonomi, bahkan hidup di bawah tekanan dan intimidasi.

Secara ukuran duniawi, mereka tampak tidak memiliki masa depan. Namun justru dari kelompok kecil itulah lahir salah satu peradaban terbesar dalam sejarah manusia.

Dalam waktu yang relatif singkat, cahaya Islam menjangkau tiga benua. Ilmu pengetahuan berkembang pesat. Kota-kota seperti Madinah, Damaskus, Baghdad, Kairo, Cordoba, Isfahan dan kemudian Istanbul menjadi pusat peradaban dunia. Dari rahim keterasingan lahirlah peradaban yang menerangi zaman.

Jika demikian, mengapa Rasulullah ﷺ mengatakan bahwa Islam akan kembali menjadi asing sebagaimana permulaannya?

Jawabannya tampaknya mengikuti pola sejarah yang sama.

Keterasingan kedua bukanlah penutup sejarah Islam. Ia adalah awal dari kelahiran kebangkitan Islam di kedua periode awal dan akhirnya.

Inilah sebabnya mengapa banyak ulama memandang bahwa hadis tersebut bukan hadis tentang kemunduran, melainkan hadis tentang tajdid—pembaruan. Setiap kali kerusakan mencapai titik tertentu, Allah membangkitkan orang-orang yang menghidupkan kembali nilai-nilai Islam dengan cara yang relevan bagi zamannya.

Mereka tidak sekadar mengulang masa lalu. Mereka menghidupkan kembali ruh Islam untuk menjawab tantangan masa kini.

Dengan demikian, kebangkitan tidak dimulai dari kemenangan politik. Ia tidak lahir dari perubahan kekuasaan semata. Kebangkitan selalu dimulai dari perubahan manusia. Dari lahirnya individu-individu yang berpikir jernih, berakhlak mulia, memiliki keberanian moral, dan bersedia memikul tanggung jawab peradaban.

Di sinilah kita menemukan hubungan yang sangat menarik antara hadis ghurabā’ dengan teori peradaban para pemikir Muslim.

Ibnu Khaldun menjelaskan bahwa naik dan turunnya suatu peradaban tidak ditentukan oleh kekayaan alam atau luas wilayah, melainkan oleh kualitas manusia yang mengelolanya. Malik Bennabi, berabad-abad kemudian, mengembangkan gagasan serupa. Menurutnya, krisis terbesar umat Islam bukan pertama-tama krisis sumber daya, melainkan krisis ide dan manusia. Ketika manusia kehilangan orientasi, seluruh instrumen peradaban—politik, ekonomi, bahkan ilmu pengetahuan—akan kehilangan arah.

Karena itu, pembaruan peradaban selalu dimulai dari pembaruan cara berpikir. Itulah yang dilakukan oleh Al-Qur’an selama 13 tahun di Makkah dan 10 tahun di Madinah, merekonstruksi psikis manusia dan merevolusi cara berfikir dan bertindaknya.

Perubahan besar dalam sejarah tidak pernah lahir dari gedung-gedung megah atau teknologi canggih. Ia lahir dari sebuah gagasan yang mengubah cara manusia memandang dirinya, Tuhannya, dan dunia di sekelilingnya.

Inilah yang dilakukan Rasulullah ﷺ di Makkah. Beliau tidak memulai dengan membangun negara. Beliau membangun manusia.

Beliau membentuk akidah, akhlak, cara berpikir, dan kesadaran sejarah. Negara di Madinah hanyalah buah dari revolusi spiritual dan intelektual yang telah lebih dahulu terjadi.

Sunnatullah itu tidak berubah. Tidak ada peradaban yang dapat berdiri tanpa manusia yang siap memikulnya.

Karena itulah, harapan Islam terhadap masa depan tidak dibangun di atas optimisme kosong. Ia dibangun di atas keyakinan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri (QS. Ar-Ra’d: 11). Janji kemenangan bukanlah cek kosong yang turun dari langit tanpa ikhtiar. Ia adalah buah dari proses panjang pendidikan, pembinaan, ilmu, kesabaran, dan kerja peradaban.

Maka, ketika sebagian orang hanya melihat dunia yang semakin gelap, seorang Muslim melihat sesuatu yang berbeda. Ia melihat kemungkinan lahirnya generasi baru.

Generasi yang tidak silau oleh gemerlap peradaban modern, tetapi juga tidak terjebak dalam romantisme masa lalu. Generasi yang memahami bahwa Islam bukan sekadar identitas, melainkan sebuah paradigma peradaban yang mampu memadukan wahyu dengan ilmu, spiritualitas dengan kemajuan, serta keadilan dengan kemakmuran.

Barangkali, inilah makna terdalam dari kabar gembira Rasulullah ﷺ tentang ghurabā’.

Mereka bukan orang-orang yang menunggu sejarah berubah. Mereka adalah orang-orang yang, dengan izin Allah, mengubah arah sejarah.

Akan tetapi, perubahan sebesar itu tidak mungkin lahir hanya dari semangat. Ia memerlukan manusia yang dipersiapkan dengan ilmu, ketakwaan, kompetensi, dan visi yang melampaui zamannya. Pertanyaan berikutnya adalah: siapakah generasi yang akan memikul amanah tersebut, dan bekal apa yang harus mereka siapkan untuk menyambut fajar peradaban yang dijanjikan?

Pertanyaan itulah yang akan membawa kita pada bagian berikutnya. Di sanalah pembahasan bergeser dari harapan menuju tanggung jawab, dari janji kebangkitan menuju proyek membangun generasi pembaru.

Penulis : Oleh KH. Fahmi Salim, Presidium Majelis Arah Indonesia (MAI)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Leave a Reply

×