
Ketika Dunia Kehilangan Arah
Tidak ada peradaban yang hidup jaya selamanya. Sejarah manusia bergerak mengikuti sunnatullah: setiap peradaban lahir, bertumbuh, mencapai puncaknya, lalu perlahan mengalami kelelahan sebelum akhirnya digantikan oleh peradaban lain yang menawarkan jawaban lebih baik atas tantangan zamannya. Dari Mesir Kuno hingga Romawi, dari Persia hingga peradaban Islam klasik, semuanya menjadi saksi bahwa kejayaan bukanlah keadaan yang abadi. Yang abadi hanyalah hukum Allah yang mengatur pergiliran zaman.
Hari ini, dunia kembali berdiri di sebuah persimpangan sejarah.
Selama lebih dari dua abad terakhir, peradaban modern menjanjikan sebuah mimpi besar: bahwa kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri akan membawa manusia menuju kehidupan yang semakin makmur, damai, dan bahagia. Revolusi Industri melahirkan mesin-mesin yang mempercepat produksi, revolusi digital menghubungkan miliaran manusia dalam hitungan detik, sementara kecerdasan buatan mulai mengambil alih pekerjaan yang dahulu hanya dapat dilakukan oleh manusia.
Di atas kertas, umat manusia tampak sedang mencapai puncak kejayaannya. Namun, benarkah demikian?
Ironisnya, justru pada saat kemampuan manusia mencapai titik yang belum pernah dibayangkan sebelumnya, dunia mengalami krisis yang juga belum pernah sedemikian kompleks. Kemajuan teknologi tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan. Produksi pangan meningkat tajam, tetapi kelaparan masih menghantui jutaan manusia. Rumah sakit semakin canggih, namun penyakit kronis terus bertambah. Dunia menjadi semakin kaya, tetapi jurang ketimpangan ekonomi semakin lebar. Manusia berhasil menaklukkan alam, tetapi gagal menaklukkan hawa nafsunya sendiri.
Paradoks inilah yang menjadi wajah peradaban modern.
Kita mampu membelah atom, tetapi belum mampu membendung keserakahan. Kita berhasil menghubungkan miliaran manusia melalui jaringan digital, tetapi gagal mempertemukan kembali hati yang tercerai-berai. Kita dapat mengirim wahana ke planet lain, namun masih kesulitan menghentikan perang, kelaparan, dan kerusakan lingkungan di bumi tempat kita berpijak.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi, “Seberapa maju teknologi manusia?” Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, “Untuk apa kemajuan itu digunakan?”
Di sinilah letak persoalan mendasar peradaban modern. Krisis yang kita hadapi bukan semata-mata krisis teknologi, melainkan krisis orientasi alias krisis ARAH HIDUP. Ilmu pengetahuan berkembang jauh lebih cepat daripada kebijaksanaan moral. Kemampuan mengubah alam meningkat pesat, tetapi kemampuan menjaga keseimbangannya justru menurun. Akibatnya, ilmu yang semestinya menjadi jalan menuju kemaslahatan sering kali berubah menjadi alat eksploitasi.
Dalam banyak hal, manusia modern tampak berhasil menguasai dunia luar, tetapi kehilangan kemampuan memimpin dunia batinnya.
Al-Qur’an telah lama mengingatkan bahaya ketika manusia menggunakan kekuasaan tanpa hikmah. Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.” (QS. Al-A’raf: 56)
Ayat ini bukan sekadar larangan melakukan kerusakan ekologis. Ia merupakan prinsip dasar sebuah peradaban. Alam diciptakan dalam keseimbangan (mīzān), sedangkan manusia diangkat sebagai khalifah untuk memeliharanya, bukan mengeksploitasinya tanpa batas.
Sayangnya, logika yang mendominasi dunia modern sering kali menjadikan keuntungan ekonomi sebagai ukuran utama keberhasilan. Alam diperlakukan sebagai komoditas, manusia sebagai konsumen, bahkan ilmu pengetahuan pun tidak jarang diarahkan mengikuti kepentingan pasar dan industri.
Tidak mengherankan apabila banyak paradoks kemudian muncul. Sumber daya alam dieksploitasi secara masif atas nama pembangunan, sementara kerusakan lingkungan dibayar mahal oleh generasi berikutnya. Industri pangan berlomba menghasilkan produk yang semakin menarik secara komersial, tetapi sering mengabaikan kualitas gizi dan keberlanjutan. Anggaran penelitian dalam berbagai bidang juga kerap lebih besar diarahkan pada kompetisi geopolitik dan industri pertahanan dibandingkan pada penyelesaian persoalan-persoalan mendasar umat manusia, seperti kesehatan, kemiskinan, dan keberlanjutan lingkungan.
Masalahnya bukan karena ilmu pengetahuan itu sendiri. Islam tidak pernah memusuhi ilmu. Justru wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ adalah perintah untuk membaca.
Yang menjadi persoalan adalah ketika ilmu kehilangan orientasi/arah etiknya.
Ilmu yang terpisah dari nilai-nilai ketuhanan dapat berubah menjadi instrumen dominasi. Teknologi yang kehilangan arah moral dapat menjadi alat penghancur kehidupan. Kemajuan yang tidak lagi berpihak kepada kemanusiaan pada akhirnya melahirkan apa yang kita saksikan hari ini: sebuah dunia yang semakin canggih, tetapi tidak selalu semakin manusiawi.
Di titik inilah Islam menawarkan cara pandang yang berbeda terhadap makna kemajuan.
Dalam pandangan Islam, ukuran keberhasilan sebuah peradaban bukan pertama-tama ditentukan oleh tingginya gedung pencakar langit, besarnya produk domestik bruto, atau kecanggihan teknologi militernya. Semua itu hanyalah instrumen. Yang menjadi ukuran utama adalah sejauh mana sebuah peradaban menghadirkan kemaslahatan bagi manusia dan menjaga keseimbangan ciptaan Allah.
Al-Qur’an menggambarkan prinsip tersebut melalui sebuah perumpamaan yang sangat indah. Setelah menjelaskan bagaimana buih akan hilang terbawa arus, Allah menegaskan:
“Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia akan tetap tinggal di bumi.”
(QS. Ar-Ra’d: 17)
Barangkali inilah salah satu definisi peradaban yang paling ringkas sekaligus paling mendalam. Peradaban yang bertahan bukanlah yang paling keras suaranya, bukan yang paling besar kekuatan militernya, dan bukan pula yang paling kaya sumber dayanya. Yang akan bertahan adalah peradaban yang paling banyak memberi manfaat bagi manusia.
Ayat ini sesungguhnya bukan hanya berbicara tentang air, logam, atau fenomena alam. Ia sedang menjelaskan hukum sejarah.
Peradaban yang dibangun di atas eksploitasi pada akhirnya akan kehilangan legitimasi moralnya. Sebaliknya, peradaban yang dibangun di atas ilmu, keadilan, keseimbangan, dan kemanfaatan akan memiliki daya hidup yang jauh lebih panjang. Karena ia berjalan seiring dengan sunnatullah, bukan melawannya.
Di sinilah letak keunikan visi Islam tentang masa depan. Islam tidak memandang sejarah sebagai rangkaian kebetulan yang bergerak tanpa arah. Sejarah adalah arena berlangsungnya sunnatullah. Ada hukum-hukum Ilahi yang bekerja di balik naik dan turunnya bangsa-bangsa. Ketika suatu masyarakat meninggalkan keadilan, tenggelam dalam keserakahan, dan menjadikan kekuasaan sebagai tujuan akhir, maka benih-benih kemundurannya sesungguhnya telah mulai ditanam. Sebaliknya, ketika sebuah umat membangun ilmu, akhlak, amanah, dan kebermanfaatan sebagai fondasi kehidupannya, pada saat itulah mereka sedang menyiapkan kelahiran sebuah peradaban baru.
Maka, apakah krisis global yang kita saksikan hari ini merupakan akhir dari perjalanan manusia? Bagi seorang Muslim, jawabannya tidak sesederhana optimisme atau pesimisme. Islam mengajarkan bahwa di balik setiap masa-masa sulit, Allah sedang menyiapkan peluang bagi lahirnya generasi pembaru. Sejarah para nabi memperlihatkan pola yang sama: setiap kebangkitan besar selalu didahului oleh masa-masa ketika kebenaran tampak asing, jumlah para pembawanya sedikit, dan kerusakan seolah mendominasi kehidupan.
Justru pada saat itulah perubahan besar mulai berdenyut. Dan mungkin, tanpa banyak kita sadari, dunia hari ini sedang memasuki fase yang serupa.
Penulis: Oleh KH. Fahmi Salim, Presidium Majelis Arah Indonesia (MAI)
