
Peringatan Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW bukan sekadar agenda seremonial tahunan umat Islam. Ia adalah momentum refleksi mendalam atas satu perintah yang menjadi inti keislaman: shalat lima waktu. Tidak berlebihan jika para ulama menyebut sholat sebagai tiang agama; runtuhnya sholat adalah pertanda runtuhnya bangunan iman itu sendiri.
Karena itulah, ketika sholat dijadikan bahan humor yang meremehkan, apalagi di ruang publik dengan jutaan penonton, umat Islam wajar merasa terusik. Ungkapan komika Pandji Pragiwaksono dalam konten Mens Rea—yang menyamakan konsistensi sholat dengan syarat rekrutmen pilot dan menjadikannya bahan kelakar situasi turbulensi pesawat—telah melampaui batas kritik sosial dan masuk ke wilayah reduksi makna ibadah.
Sholat Bukan Sekadar Simbol, Apalagi Bahan Olok-olok
Dalam Islam, sholat tidak dipahami sebagai ritual kosong atau sekadar simbol kesalehan personal. Ia adalah perintah langsung dari Allah SWT yang diterima Nabi Muhammad SAW tanpa perantara malaikat pada peristiwa Isra Mikraj. Tidak ada ibadah lain yang memiliki keistimewaan seperti ini.
Rasulullah SAW bersabda:
> “Perjanjian antara kami dan mereka adalah sholat. Barang siapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.” (HR. Ahmad, Tirmidzi)
Hadis ini menegaskan bahwa sholat adalah pembeda paling mendasar antara iman dan kekufuran. Maka, menertawakan sholat—baik secara eksplisit maupun implisit—bukanlah kritik netral, melainkan berpotensi meremehkan fondasi agama.
Pemimpin dan Sholat: Standar Islam yang Jelas
Dalam pernyataannya, Pandji mempertanyakan logika memilih pemimpin berdasarkan ibadah sholat, seolah-olah konsistensi sholat tidak relevan dengan kualitas kepemimpinan. Pandangan ini bertentangan dengan prinsip Islam.
Al-Qur’an secara tegas mengaitkan kepemimpinan dengan komitmen terhadap sholat:
> “(Mereka adalah) orang-orang yang jika Kami berikan kedudukan di bumi, mereka mendirikan sholat, menunaikan zakat, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar.” (QS. Al-Hajj: 41)
Ayat ini menunjukkan bahwa shalat adalah syarat moral dan spiritual utama bagi pemimpin, bukan sekadar atribut tambahan. Seorang pemimpin yang menjaga sholatnya menunjukkan disiplin, ketundukan kepada Allah, dan kesadaran akan pertanggungjawaban—nilai-nilai yang justru sangat relevan dengan kepemimpinan.
Para ulama klasik hingga kontemporer sepakat bahwa meninggalkan sholat secara sengaja adalah dosa besar, bahkan sebagian menyatakannya sebagai kekufuran. Maka, bagaimana mungkin Islam memandang enteng sholat dalam menilai kelayakan seorang pemimpin?
Kritik Boleh, Meremehkan Ibadah Tidak
Islam tidak anti kritik. Sejarah Islam justru kaya dengan tradisi kritik sosial dan koreksi penguasa. Namun kritik dalam Islam dibatasi oleh adab dan penghormatan terhadap perkara-perkara sakral. Menertawakan sholat dengan analogi profan bukanlah kritik substantif, melainkan banalitas yang mencederai rasa keimanan umat.
Jika yang ingin disampaikan adalah kritik terhadap politik identitas atau manipulasi simbol agama, maka sasarannya adalah praktik politisasi, bukan ibadah sholat itu sendiri. Ketika sholat dijadikan punchline, pesan kritik kehilangan etika dan kedalaman moral.
Isra Mikraj sebagai Cermin Introspeksi
Isra Mikraj mengajarkan bahwa sholat adalah jalan naiknya manusia menuju Tuhan. Lawakan yang merendahkan sholat—disadari atau tidak—menarik ibadah ini turun ke level olok-olok duniawi. Inilah yang patut ditegur, bukan dengan kemarahan membabi buta, tetapi dengan argumentasi iman dan ilmu.
Umat Islam berhak menuntut ruang publik yang menghormati keyakinan mereka. Bukan untuk membungkam kritik, melainkan untuk menjaga agar kebebasan berekspresi tidak berubah menjadi kebebasan merendahkan yang sakral.
Di momen Isra Mikraj ini, sudah sepatutnya kita mengingatkan: shalat bukan sekadar identitas, tetapi bukti ketaatan; bukan bahan tawa, melainkan ukuran iman—dan dalam Islam, ia adalah syarat utama kepemimpinan.
Salam hangat buat Mas Pandji dari saya: Fahmi Salim, guru ngaji di Al-Fahmu Institute.
Jakarta, 16 Januari 2026
