🎙🎙 Fahmi Salim| Founder Al-Fahmu Institute
الْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa Ilaaha Ilallah Wallahu Akbar, Allahu Akbar Walillahil Hamdu
Alhamdulillah, pagi ini kita berkumpul merapatkan jiwa dan raga, menadahkan hati untuk cucuran rahmat Ilahi. Pagi ini kita bertakbir, membesarkan nama Allah, agar terpatri sampai ke relung hati bahwa hanya Allah Yang Maha Besar, selain-Nya adalah kecil di hadapan-Nya. Permasalahan sebesar apapun, menjadi kecil di hadapan keagungan kekuasaanNya. Musuh yang kuat, menjadi lemah di hadapan kekuatanNya yang tiada berbatas. Mari bertakbir dengan jiwa, lisan dan raga kita.
Kita bertakbir, bertahmid dan bertahlil terus menerus hingga memenuhi angkasa jiwa dan raga, setelah kita dengan izin Allah dapat menundukkan hawa nafsu di bulan Ramadhan, untuk senantiasa berproses menjadi hamba Allah yang selalu patuh dan ta’at kepada perintah dan larangan dari Allah ta’ala.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah..
Sudah menjadi ketetapan Allah bahwasanya kehidupan suatu ummat pasti mengalami pasang surut, banyak tantangan sekaligus peluang. Al-Qur’an menyebutnya dengan sunnah dipergilirkan [‘mudawalah’] (Qs. Ali Imran: 140), dibela [‘mudafa’ah’] (Qs. Al-Hajj: 40), perubahan mental [‘taghyiir’] (Qs. Ar-Ra’d: 11).
Tantangan terbesar umat saat ini adalah kebodohan sekaligus pembodohan ummat, kediktatoran politik, dan kelemahan pertahanan militer negeri-negeri muslim.
Sejak 1455 tahun silam saat Qur’an ditanzilkan Allah kepada Rasul Muhammad saw, cahaya petunjuk Qur’an itu berhasil, secara perlahan bertahap tapi pasti, mengusir kegelapan alam jahiliyah (kebodohan epistemic-teistik), mengikis kabut kelamnya kediktatoran dan tirani dan memperkuat benteng ketahanan dan pertahanan risalah ini dari agresi musuh selama berabad-abad. Ini berlangsung lebih dari 1300 tahun.
Untuk membangun kekuatan ummat Islam, Allah ta’ala telah memberikan petunjuk yang rinci dan sempurna. Dua surah Allah turunkan di periode Makkah yaitu Surah Al-Qolam dan As-Syura dan satu surah di periode Madinah, yaitu Surah Al-Hadid, kepada Rasulullah untuk tujuan ‘izharuddin’, memenangkan Islam sebagaimana tertuang dalam Qs. At-Taubah: 33, Al-Fath: 28, As-Shoff: 9.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.. kita umat Islam memerlukan 3 kekuatan ini yang telah disinggung oleh Al-Qur’an.
1. KEKUATAN PENA (AL-QOLAM) SIMBOL PERADABAN ILMU
نۤ ۚوَالْقَلَمِ وَمَا يَسْطُرُوْنَۙ – ١ سورة نون
2. KEKUATAN MUSYAWARAH, PILAR POLITIK ISLAM
وَالَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِرَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَۖ وَاَمْرُهُمْ شُوْرٰى بَيْنَهُمْۖ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۚ – ٣٨ سورة الشورى
3. KEKUATAN BESI, KETANGGUHAN MILITER NEGERI MUSLIM
لقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ ۖ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ ۚ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ سورة الحديد 25
“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasulNya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS Al Hadid (57): 25)
Sayyid Quthub dalam tulisannya menguraikan, “Allah menurunkan besi ‘yang padanya terdapat kekuatan yang hebat, yaitu kekuatan dalam perang dan damai. Kemudian, ‘Dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)-Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Penggalan ini mengisyaratkan jihad dengan senjata. Sebuah penyajian yang selaras dengan konteks surah yang tengah membicarakan pengorbanan dengan jiwa dan harta.”
HAKIKAT RAMADHAN
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah..
Bersyukur kita telah menjalani prosesi pendidikan dan penyucian jiwa selama 1 bulan lamanya di Ramadhan. Hakikat Ramadhan sepenuhnya adalah Pendidikan dan penempaan taqwa, karena:
1. Ramadhan Bulan Ketaatan & Tasbih Seluruh Alam Semesta (Qs. Al-Isra’: 44)
2. Ramadhan Bulan Komitmen Halal Lifestyle (Qs. Al-Baqarah: 168, 187-188)
3. Ramadhan Bulan Komitmen Kepada Prinsip Pokok Dan Syariat Al-Qur’an (Qs. Al-Baqarah: 208, Al-An’am: 153)
ISTIQOMAH PASCA RAMADHAN
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah..
Allah ta’ala berfirman:
اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ اَلَّا تَخَافُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَبْشِرُوْا بِالْجَنَّةِ الَّتِيْ كُنْتُمْ تُوْعَدُوْنَ
Sesungguhnya orang-orang beriman yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka bermohon kepada Allah agar meneguhkan pendirian mereka beristikamah dalam hidup, maka malaikat-malaikat akan turun kepada mereka yang akan menjadi teman mereka dengan berkata, “Janganlah kamu merasa takut menghadapi masa datang, dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu melalui Rasul-Nya.”
Sebagai perwujudan istiqamah dalam beribadah, hendaknya para alumni madrasah Ramadhan memiliki 7 karakter utama yang diterangkan Allah dalam surah at-Taubah:
اَلتَّاۤىِٕبُوْنَ الْعٰبِدُوْنَ الْحَامِدُوْنَ السَّاۤىِٕحُوْنَ الرَّاكِعُوْنَ السَّاجِدُوْنَ الْاٰمِرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَالنَّاهُوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَالْحٰفِظُوْنَ لِحُدُوْدِ اللّٰهِ ۗوَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِيْنَ – ١١٢
Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, beribadah, memuji (Allah), mengembara (demi ilmu dan agama), rukuk, sujud, menyuruh berbuat makruf dan mencegah dari yang mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah orang-orang yang beriman.
Dalam ayat ini disebutkan beberapa sifat dari orang-orang mukmin yang telah mencapai puncak kesempurnaan iman, yang telah mengorbankan harta benda dan jiwa raga mereka dalam berjihad untuk menjunjung tinggi dan menegakkan agama Allah. Sifat-sifat tersebut ialah:
1. Mereka adalah orang-orang yang bertobat, TAAIBUUN, kembali kepada Allah dengan cara meninggalkan setiap perbuatan yang akan menjauhkan diri dari keridaan-Nya. Maka tobat orang yang pernah menjadi kafir adalah kembalinya mereka kepada jalan Allah, serta melaksanakan perintah syariat-Nya. Dalam hal ini Allah telah berfirman: Jika mereka bertobat, mendirikan salat, dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama. (at-Taubah/9: 11) Sedang tobat orang yang pernah menjadi munafik ialah dengan cara meninggalkan kemunafikannya itu. Tobat orang-orang yang durhaka ialah dengan cara meninggalkan kedurhakaannya dengan menyesali apa yang telah diperbuatnya, serta bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi, sebagaimana tobat yang telah dilakukan oleh beberapa orang mukmin (Abu Lubabah dengan kawan-kawannya) yang telah mangkir dari Perang Tabuk. Adapun tobat orang yang telah lalai dari melakukan kebajikan, ialah dengan cara berbuat kebajikan lain yang lebih banyak, sedang tobat orang yang lalai dari mengingat Allah ialah dengan cara berzikir dan bersyukur lebih banyak lagi setelah menyadari kelalaiannya.
2. Orang-orang mukmin yang mencapai puncak kesempurnaan iman mempunyai sifat sebagai orang-orang yang beribadat kepada Allah, ‘AABIDUUN, semata-mata dengan ikhlas, tanpa riya maupun syirik. Semua ibadah doa dan harapannya hanya ditujukan kepada Allah semata. Mereka menjauhi segala perbuatan yang dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada selain Allah atau mengharapkan pertolongan dari selain Allah, baik untuk kepentingan duniawi maupun ukhrawi.
3. Orang-orang mukmin disifati sebagai orang-orang yang senantiasa menyampaikan pujian kepada Allah, HAAMIDUUUN, baik dalam waktu suka maupun pada saat duka. Dalam hal ini ‘Aisyah r.a. menerangkan bahwa Nabi Muhammad saw, apabila menemukan suatu hal yang menggembirakan maka beliau mengucapkan kata-kata pujian yang berbunyi: Segala pujian hanyalah untuk Allah yang dengan nikmat-Nya segala kebaikan dapat disempurnakan. (Riwayat Ibnu Majah dan al-hakim) Dan apabila beliau menghadapi suatu hal yang tidak diinginkannya, maka beliau mengucapkan kata pujian yang berbunyi: Segala puji hanyalah untuk Allah semata-mata, dalam segala hal. (Riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan lain-lain)
4. Orang-orang mukmin yang mencapai puncak kesempurnan juga memiliki sifat sebagai orang-orang yang suka mengembara, SAAIHUUN, untuk tujuan-tujuan yang baik dan benar, misalnya pengembaraan yang dilakukan untuk menuntut ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan agama, maupun ilmu pengetahuan untuk kemajuan duniawi, atau untuk sesuatu yang bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa dan tanah air. Atau melakukan pengembaraan untuk melihat dan memperhatikan keadaan bangsa-bangsa dan negeri-negeri lain, agar dari semuanya itu dapat diambil pelajaran yang berguna, serta meningkatkan keimanan dan ibadah kita kepada Allah, Pencipta alam semesta. Di dalam Al-Qur’an, terdapat banyak firman Allah yang mendorong manusia agar mengadakan perjalanan di muka bumi ini, untuk mendapatkan pengalaman dan pelajaran, yang akan menambah kuatnya keimanan mereka. Antara lain firman Allah: Katakanlah (Muhammad), “Jelajahilah bumi, kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (al-An’am/6: 11) Dan firman-Nya dalam ayat yang lain: Tidakkah mereka memperhatikan berapa banyak generasi sebelum mereka yang telah Kami binasakan, padahal (generasi itu), telah kami teguhkan kedudukannya di bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu. (al-An’am/6: 6) Masih banyak ayat lainnya yang sejiwa dengan ayat-ayat di atas yang menyuruh manusia untuk memperhatikan lebih banyak makhluk Tuhan di dunia ini. Semakin jauh berjalan, semakin banyak yang dilihat, dan memberikan banyak pengetahuan, pengalaman, dan pelajaran, yang akhirnya menambah keimanan dan ketakwaan kepada Allah.
5. Sifat lainnya yang dimiliki orang-orang mukmin sejati ialah senantiasa melakukan ruku dan sujud kepada Allah, ROOKI’UUN SAAJIDUUN, yakni mendirikan salat. Sengaja Allah menyebutkan masalah ruku dan sujud dalam ayat ini, karena kedua hal tersebut adalah menunjukkan sifat tunduk tawadu serta penghambaan diri kepada Allah, dan juga untuk menggambarkan bahwa pekerjaan salat itu tidak pernah lepas dari ruku’ dan sujud.
6. Dua sifat lainnya dari orang-orang mukmin sejati ialah suka mengajak orang lain untuk berbuat kebajikan, AAMIRUUN BIL MA’RUF dan mencegahnya dari perbuatan yang mungkar, NAAHUUN ‘ANIL MUNKAR dengan jalan mengajaknya kepada keimanan dan melakukan perbuatan-perbuatan yang merupakan buah dari keimanan itu, yaitu hal-hal yang baik dan bermanfaat bagi kehidupan pribadi dan kehidupan bersama dalam masyarakat.
7. Sifat lainnya yang disebutkan terakhir dalam ayat ini, ialah sebagai orang-orang yang senantiasa menjaga diri untuk tidak melampaui batas dan ketentuan yang telah ditetapkan Allah, HAAFIZUUN LI HUDUD ALLAH, seperti syariat dan hukum-hukum-Nya, yang harus diikuti oleh kaum mukmin untuk kebahagiaan mereka di dunia dan di akhirat, dan apa-apa yang harus mereka jauhi, karena bahaya-bahaya yang dapat ditimbulkannya. Demikian pula, dalam hukum dan syariat tersebut telah dijelaskan pula apa-apa yang harus dilakukan oleh umat Islam dan para pemimpin mereka, baik untuk kepentingan pribadi muslim, maupun untuk kejayaan masyarakat Islam umumnya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah..
Salah satu tantangan umat Islam untuk komitmen menjaga syariat dan hukum-hukum Allah adalah tipu daya HAM, cap intoleransi, anti kebhinekaan dan tidak Pancasilais. Sebagian umat Islam menipu dirinya atau tertipu dengan jargon HAM untuk membenarkan kawin beda agama dan melegalkan kawin sesama jenis, bahkan melegitimasi hubungan seksual di luar pernikahan dengan meminjam teori ‘Milkul Yamin’ seorang tukang insinyur Teknik asal Syria, M. Sahrur.
Hamka menulis, “Bagi umat Islam sendiri, kalau mereka biarkan program penghancuran Islam yang diselundupkan dalam bungkusan hak-hak asasi manusia ini lolos, berhentilah menjadi Muslim dan naikkanlah bendera putih. Kalau ruhmu telah goyah dari Islam memang banyaklah bahan untuk menimbulkan keraguanmu tentang Islam yang tersedia dari hasil-hasil penyelidikan kaum Orientalis.”
Prof. HM Rasjidi, menteri agama pertama RI, dalam artikelnya di Harian Abadi edisi 20 Agustus 1973, mengkritik keras draf RUU Perkawinan yang dalam pasal 10 ayat (2) disebutkan: ”Perbedaan karena kebangsaan, suku, bangsa, negara asal, tempat asal, agama, kepercayaan dan keturunan, tidak merupakan penghalang perkawinan.
Pasal dalam RUU tersebut jelas ingin mengadopsi Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia pasal 16 yang menyatakan: ”Lelaki dan wanita yang sudah dewasa, tanpa sesuatu pembatasan karena suku, kebangsaan dan agama, mempunyai hak untuk kawin dan membentuk satu keluarga. Mereka mempunyai hak yang sama dengan hubungan dengan perkawinan, selama dalam perkawinan dan dalam soal perceraian.”
Dalam tulisannya tentang Perbandingan Hak-hak Asasi Manusia Deklarasi PBB dengan Islam, khusus tentang pasal 16 tersebut, Prof. Hamka menulis kesimpulan yang sangat tajam: ”Oleh sebab itu dianggap kafir, fasiq, dan zalim, orang-orang Islam yang meninggalkan hukum syariat Islam yang jelas nyata itu, lalu pindah bergantung kepada ”Hak-hak Asasi Manusia” yang disahkan di Muktamar San Francisco, oleh sebagian anggota yang membuat ”Hak-hak Asasi” sendiri karena jaminan itu tidak ada dalam agama yang mereka peluk.” (Hamka, Studi Islam: 1985, hlm. 301-302).
Di negeri kitapun muncul golongan-golongan yang menyebut dirinya kaum modernis. Mereka menyorak-nyorakkan sekularisme, memisahkan agama dari negara yang bukan dipelajarinya dari kaum Kristen di Eropa dan Amerika melainkan dari kaum yang memang benci dan antipasti pada agama sejak semula. Karena itulah mereka berusaha keras untuk melucuti nilai-nilai Islam dari Pancasila, dan menjadikannya netral atau bebas nilai, dengan tujuan bisa diisi oleh kepentingan ideologis rejim yang berkuasa.
Mereka sudah tidak punya rasa malu dan segan untuk menyudutkan umat Islam dengan tuduhan anti-Pancasila, jika ingin menjalankan syariat Islam secara kaffah di NKRI. Misalkan terbaru, ada oknum menghina jilbab dengan ungkapan penutup kepala manusia gurun, hal ini sama dengan menghina syariat Islam. Postingan oknum itu juga bernuansa ujaran kebencian terhadap ras dan etnis tertentu yaitu Arab yang identik dengan gurun pasir. Mirisnya, sekarang demi politik jabatan dan kekuasaan, seorang muslim rela menghina syariat agamanya sendiri. Lengkap sudah ujaran rasis, xenophobia dan islamophobia di penghujung Ramadhan ini. Semoga dia segera bertaubat. Kepada para pengacara muslim kami himbau untuk menuntut Rektor Institut Teknologi Kalimantan dalam perkara penistaan agama karena menghina simbol agama.
Padahal banyak fakta di negara maju sekalipun paham bahwa tutup kepala bagi Muslimah, tidak pernah menutup otak dan kreasi dan kontribusi positifnya. Hamka pernah menulis, “Untuk menjamin terpeliharanya Pancasila itu menurut keyakinan saya, tidak ada jalan lain, hanyalah satu, yaitu supaya saya menjadi seorang Muslim yang baik, menjadi seorang Muslim yang taat kepada Allah swt. Saya akan berusaha hidup sebagai muslim sejati, niscaya tidak dapat lain saya akan menjadi pancasilais sejati. Satu fitnah yang besar kalau ada orang yang mempertentangkan antara Islam dan Pancasila.”
Marilah kita bermunajat kepada Allah di hari fitri ini dengan tulus mendoakan kebaikan bagi negeri ini, doakan diri kita, para pemimpin, para ulama cerdik cendekia, para penentu kebijakan dari paling atas sampai paling rendah agar senantiasa dikokohkan iman islamnya, diberikan petunjuk ke jalan yang haq.
الحمد لله رب العالمين مالك يوم الدين إياك نعبد وإياك نستعين اللهم صل وسلم على أشرف الأنبياء وإمام المرسلين محمد وعلى آله وصحبه أجمعين:
اللهم إنا نسألك رحمة من عندك تهدي بها قلوبنا وتجمع بها أمورنا وتلم بها شعثنا وترد بها غائبنا وترفع بها شاهدنا وتزكي بها عملنا وتلهمنا بها رشدنا وترد بها ألفتنا وتعصمنا بها من كل سوء. اللهم اعطنا إيمانا ويقينا ليس بعده كفر ورحمة ننال بها شرف كرامتك في الدنيا والآخرة اللهم إنا نسألك الفوز في القضاء ومنزل الشهداء وعيش السعداء والنصر على الأعداء.
اللهم إنا ننزل بك حاجتنا وإن قصر رأينا وضعف عملنا وافتقرنا الى رحمتك فنسألك يا قاضي الأمور ويا شافي الصدور كما تجير بين البحور أن تجيرنا من عذاب السعير ومن دعوة الثبور ومن فتنة القبور اللهم وما قصر عنه رأينا ولم تبلغه مسألتنا ولم تبلغه نيتنا من خير وعدته أحدا من خلقك أو خير أنت معطيه أحدا من عبادك فإنا نرغب اليك فيه ونسألكه يا رب العالمين
اللهم يا ذا الحبل الشديد والأمر الرشيد نسألك الأمن يوم الوعيد والجنة يوم الخلود مع المقربين الشهود والركع السجود الموفين بالعهود إنك رحيم ودود وإنك تفعل ما تريد. اللهم بديع السموات والأرض ذا الجلال والإكرام والعزة التي لا ترام أسألك يا الله يا رحمن يا رحيم بجلالك ونور وجهك أن تنور بكتابك أبصارنا وأن تطلق به ألسنتنا وأن تفرج به عن قلوبنا وأن تشرح به صدورنا وأن تغسل به أبداننا فإنه لا يعيننا على الحق غيرك ولا يؤتينه إلا أنت ولا حول ولا قوة إلا بالله العلي العظيم
رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ ٱلْوَهَّابُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَآخِرُ دَعْوَاناَ أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِين
Barakallahu lii wa lakum. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawwal 1443 H. Taqabbalallah minna wa minkum. Kullu ‘am wa antum bi-khayr.
Wassalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
