
Setiap bulan Ramadan, umat Islam menantikan satu malam yang disebut sebagai malam paling mulia dalam sejarah spiritual manusia: Lailatul Qadar. Dalam Al-Qur’an, malam ini digambarkan sebagai malam yang “lebih baik dari seribu bulan” (QS. Al-Qadr: 3). Nilai ibadah pada malam tersebut bahkan melampaui ibadah selama lebih dari delapan puluh tahun. Karena itu, sejak masa Nabi hingga generasi ulama klasik, Lailatul Qadar menjadi pusat perhatian spiritual umat Islam.
Namun menariknya, Al-Qur’an tidak menyebutkan tanggal pasti malam tersebut. Yang dijelaskan justru karakter spiritualnya: malam yang dipenuhi ketenangan, turunnya para malaikat, dan limpahan rahmat hingga terbit fajar. Dalam Surah Al-Qadr disebutkan bahwa pada malam itu para malaikat turun bersama Jibril membawa berbagai ketetapan Allah, dan malam itu dipenuhi keselamatan hingga datangnya fajar.
Gambaran ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadar bukan sekadar fenomena kosmik, tetapi juga pengalaman spiritual yang menghadirkan ketenangan mendalam bagi orang-orang yang menghidupkannya dengan ibadah.
Tanda-tanda Lailatul Qadar dalam Hadis
Dalam hadis-hadis Nabi, terdapat beberapa tanda yang sering disebutkan para ulama. Nabi Muhammad menjelaskan bahwa malam tersebut berlangsung dalam suasana yang tenang, tidak terlalu panas dan tidak terlalu dingin. Pada pagi harinya, matahari terbit dengan cahaya lembut yang tidak menyilaukan. Riwayat-riwayat ini menjadi petunjuk bagi para sahabat untuk mengenali keberkahan malam tersebut.
Namun para ulama menegaskan bahwa tanda-tanda itu biasanya diketahui setelah malam itu berlalu, sehingga umat Islam tidak dianjurkan hanya menunggu tanda, melainkan menghidupkan malam-malam terakhir Ramadan dengan ibadah yang sungguh-sungguh.
Perbedaan Pendapat Sahabat tentang Waktu Lailatul Qadar
Sejak masa sahabat Nabi, terdapat perbedaan pendapat mengenai kemungkinan tanggal Lailatul Qadar. Sebagian sahabat meriwayatkan pengalaman Nabi yang menunjukkan kemungkinan malam tertentu.
Sahabat Abu Sa’id al-Khudri meriwayatkan bahwa Nabi pernah mengalami Lailatul Qadar pada malam ke-21 Ramadan. Riwayat lain menunjukkan kemungkinan malam ke-23, sebagaimana dipahami oleh sahabat Abdullah ibn Unays.
Pendapat yang paling populer datang dari sahabat Ubayy ibn Ka’b yang menyatakan bahwa Lailatul Qadar adalah malam ke-27 Ramadan. Dalam riwayat sahih Muslim ia bahkan bersumpah bahwa ia mengetahui malam tersebut berdasarkan petunjuk Nabi.
Sementara itu, sahabat Abdullah ibn Umar meriwayatkan sabda Nabi agar umat Islam mencari Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan. Riwayat ini kemudian menjadi dasar pendapat mayoritas ulama.
Analisis Ibn Abbas tentang Malam ke-27
Penjelasan menarik juga datang dari sahabat yang dikenal sebagai ahli tafsir, Abdullah ibn Abbas. Dalam beberapa riwayat, ia memberikan analisis simbolik terhadap Surah Al-Qadr. Ketika kata-kata dalam surah tersebut dihitung, kata “hiya” dalam ayat terakhir—yang merujuk kepada malam tersebut—berada pada urutan kata ke-27. Sebagian ulama melihatnya sebagai isyarat simbolik kemungkinan malam ke-27 Ramadan.
Meski demikian, para ulama menegaskan bahwa analisis semacam ini adalah ijtihad, bukan ketetapan pasti.
Hikmah Dirahasiakannya Lailatul Qadar
Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa Nabi pernah hendak memberitahukan tanggal pasti Lailatul Qadar, tetapi pengetahuan itu diangkat oleh Allah karena terjadi perselisihan di antara dua orang. Para ulama melihat peristiwa ini sebagai hikmah agar umat Islam bersungguh-sungguh menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir Ramadan.
Dengan demikian, misteri Lailatul Qadar justru menjadi sarana pendidikan spiritual agar manusia tidak hanya mencari satu malam tertentu, tetapi meningkatkan kualitas ibadah secara konsisten.
Urgensi I’tikaf dalam Mencari Lailatul Qadar
Salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam sepuluh malam terakhir Ramadan adalah I’tikaf. I’tikaf berarti berdiam diri di masjid dengan niat mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah, dzikir, dan refleksi spiritual.
Riwayat dari Aisyah menyebutkan bahwa Nabi Muhammad selalu melakukan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir Ramadan hingga beliau wafat. Tradisi ini kemudian dilanjutkan oleh para sahabat.
I’tikaf memiliki makna penting dalam upaya meraih Lailatul Qadar. Dengan meninggalkan kesibukan dunia dan memusatkan diri pada ibadah, seseorang dapat menghadirkan suasana spiritual yang lebih khusyuk. I’tikaf juga menjadi sarana untuk memperbanyak shalat malam, membaca Al-Qur’an, berdoa, serta melakukan muhasabah diri.
Dalam konteks ini, i’tikaf bukan sekadar ritual, tetapi juga latihan spiritual untuk memutus sejenak keterikatan manusia dengan rutinitas dunia.
Makna Modern I’tikaf
Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi kesibukan, tekanan pekerjaan, dan arus informasi yang terus-menerus, praktik i’tikaf memiliki makna yang semakin relevan. Ia dapat dipahami sebagai ruang kontemplasi spiritual, sebuah “retret ruhani” yang memungkinkan manusia mengambil jarak dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.
Jika dalam kehidupan modern banyak orang mencari ketenangan melalui berbagai bentuk retreat atau meditasi, maka i’tikaf sebenarnya menawarkan konsep serupa dalam tradisi Islam: menenangkan jiwa, menata kembali niat hidup, dan memperkuat hubungan dengan Tuhan.
Dengan demikian, i’tikaf tidak hanya berfungsi sebagai sarana mencari Lailatul Qadar, tetapi juga sebagai cara membangun kembali keseimbangan spiritual di tengah kehidupan yang serba cepat.
Penutup
Pada akhirnya, Lailatul Qadar bukan sekadar malam yang dicari tanggalnya, tetapi malam yang mengajarkan makna kedekatan manusia dengan Tuhan. Ia adalah simbol bahwa dalam perjalanan hidup manusia terdapat momen-momen spiritual yang dapat mengubah arah kehidupan.
Melalui ibadah yang sungguh-sungguh, terutama dengan menghidupkan sepuluh malam terakhir Ramadan dan menjalankan i’tikaf, umat Islam diajak untuk memasuki ruang kedekatan dengan Allah. Dalam keheningan malam, ketika manusia menundukkan ego dan memohon ampunan, rahmat Allah terbuka seluas-luasnya.
Dalam pidatonya di Peringatan Nuzul Quran Tingkat Kenegaraan 1447/2026 tadi malam, Presiden Prabowo sangat bagus mengartikulasikan betapa konsep keadilan Al-Quran memengaruhi model dan komitmen kepemimpinannya. Saya bergembira dan bersyukur kepada Allah, presiden kita sudah kembali ke fitrahnya, hidup lagi cahaya agamanya dan mau mendekat dan menerima nasehat ulama.
Di situlah pesan terdalam Lailatul Qadar: bahwa perubahan besar dalam kehidupan sering lahir dari kesunyian doa, ketulusan ibadah, dan kesediaan manusia untuk kembali mendekat kepada Tuhannya.
Jakarta, 11 Maret 2026
Oleh Fahmi Salim, Direktur Al-Fahmu Institute & Wakil Ketua Komisi HLNKI MUI Pusat
