
Setiap kali umat Islam memperingati momentum-momentum kenabian seperti Maulid Nabi, Nuzul Qur’an, Isra’ Mi’raj, Hijrah Rasul, Perang Badar dan Fathu Makkah hingga Haji Wada’, panggung dakwah kerap dipenuhi pengulangan kisah sentimental tentang sosok agung Muhammad ﷺ. Narasi yang hadir umumnya berhenti pada romantisme sejarah, rincian mukjizat, atau kronologi tahunan yang steril dari kontekstualisasi zaman.
Timbul pertanyaan mendasar yang menggelitik kesadaran intelektual kita: Apakah kita telah membaca Sirah Nabawiyah sebagaimana mestinya?
Kelemahan terbesar pembacaan sirah hari ini terletak pada reduksi metodologis. Sirah sering diperlakukan sekadar sebagai tumpukan artefak masa lalu atau dongeng pengantar tidur. Padahal, Sirah Nabawiyah adalah laboratorium peradaban hidup—satu-satunya ruang uji historis tempat kita menyaksikan secara empiris bagaimana wahyu langit ditransformasikan menjadi realitas sosial, membentuk tatanan keluarga, menyusun tata kelola negara, hingga memimpin perubahan tatanan geopolitik global.
Epistemologi yang Utuh dan Runtuhnya Tatanan Jahiliyah
Dunia kontemporer kerap terjebak dalam dikotomi pengetahuan antara rasionalisme dan empirisme materialistik. Di titik ini, sirah menawarkan model integratif yang harmonis melalui tiga pilar epistemologi Islam: Wahyu (Naql), Rasio (Aql), dan Pengalaman Indrawi (Hiss).
Mukjizat dan bimbingan wahyu tidak pernah meniadakan kausalitas logis. Ketika merancang peristiwa Hijrah, Rasulullah ﷺ menyewa penunjuk jalan profesional non-Muslim, memetakan rute memutar ke arah selatan (Gua Tsur) alih-alih jalur langsung ke utara, dan membangun jaringan intelijen yang rapi. Keyakinan spiritual (tawakal) diintegrasikan seimbang dengan mitigasi risiko (Aql) serta aksi nyata (Hiss).
Transformasi tersebut sekaligus menjadi antitesis dari penyakit sosiologis peradaban. Mengadopsi tesis pemikir Aljazair, Malik Bennabi, peradaban manusia terbagi ke dalam tiga fase orientasi:
- Peradaban yang sehat (berpusat pada Ide/Gagasan);
- Peradaban yang sakit (berpusat pada Tokoh/Person); dan
- Peradaban yang dekaden (berpusat pada Benda/Materi).
Masyarakat Jahiliyah abad ke-7 terjebak dalam pemujaan benda (berhala) dan figur (ashabiyah kabilah). Melalui risalah kenabian, Rasulullah ﷺ meruntuhkan berhala materialisme dan kultus individu tersebut, lalu mengalihkannya menuju kedaulatan tauhid dan nilai-nilai transenden. Pembacaan sirah modern harus mampu mengembalikan orientasi umat pada supremasi ide dan prinsip syariat, bukan pada fanatisme golongan yang sempit.
Menghadapi Badai Modernitas Cair (Liquid Modernity)
Di era kontemporer, sosiolog Zygmunt Bauman memperkenalkan konsep Liquid Modernity—sebuah era ketidakpastian di mana nilai-nilai moral mencair, relativisme merajalela, dan manusia kehilangan pegangan hidup. Dampak lanjutannya melahirkan wabah kecemasan eksistensial (age of anxiety) serta individualisme ekstrem. Generasi muda terseret dalam ilusi “keselamatan individual” (individual salvation), sibuk mengejar capaian karier pribadi tanpa kepedulian terhadap problem sosial.
Sirah Nabawiyah hadir sebagai jangkar moral yang kokoh (solidity of references). Ia menambatkan kebenaran pada prinsip wahyu yang absolut, namun membuka kelenturan pada sarana teknis kontemporer. Sirah juga merawat dimensi kemanusiaan secara proporsional:
- Pilar Akal: Memandu perencanaan strategis dan logika sebab-akibat.
- Pilar Ruh: Menawarkan katarsis dan terapi mental. Saat putra beliau, Ibrahim, wafat, Rasulullah ﷺ menangis dan menegaskan bahwa kesedihan adalah tabiat manusiawi yang harus tetap berbingkai rida Ilahi. Pengalaman penolakan berdarah di Thaif mengajarkan ketahanan mental tanpa keputusasaan.
- Pilar Jasad: Menunjukkan etos kerja keras sebagai pedagang mandiri dan integritas fisik sebagai pemimpin lapangan.
Sirah turut mendidik kolektivitas sosial. Kasus boikot terhadap Ka’ab bin Malik pasca-Perang Tabuk membuktikan bahwa integritas komunitas tidak boleh dikorbankan demi egoisme individu.
Membantah Syubhat Historisisme dan 4 Tingkat Literasi Sirah
Kita kerap menghadapi syubhat kaum sekuler-liberal melalui pendekatan tarikhaniyyah (historisisme)—yang menuduh bahwa sirah dan hukum-hukumnya hanyalah produk sosiologis abad ke-7 yang usang. Tuduhan ini runtuh ketika kita memahami bahwa nilai-nilai kemanusiaan, keadilan distributif, dan moralitas nubuwah bersifat transenden melampaui sekat ruang dan waktu. Bagaimana mungkin living law yang hidup di Madinah saat Nabi Muhammad hidup menyiapkan era transisi geopolitik terbesar dalam sejarah peradaban manusia dari dunia kuno (dominasi Romawi-Persia) ke dunia modern Islam, dianggap sudah ketinggalan zaman dan tidak relevan lagi?
Untuk melakukan lompatan peradaban, literasi pembacaan Sirah Nabawiyah di ruang publik maupun kurikulum pendidikan Islam perlu ditingkatkan melalui empat jenjang terstruktur:
- LEVEL 1 Qira’ah Sardiyah (Naratif): Penguasaan kronologi peristiwa faktual secara runtut dan sahih (seperti dalam Ar-Rahiq Al-Makhtum karya Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri).
- LEVEL 2 Qira’ah Tahliliyah (Analitis): Penggalian istinbath hukum, hikmah tarbiyah, dan kaidah fikih dakwah (sebagaimana dipaparkan Dr. M. Said Ramadhan Al-Buthi dan Syaikh Muhammad Al-Ghazali dalam Fiqhu As-Sirah).
- LEVEL 3 Qira’ah Sunaniyah (Hukum Peradaban): Pembacaan kritis untuk menangkap hukum-hukum sosial-sejarah (sunnatullah) dalam kebangkitan dan keruntuhan kekuasaan (seperti karya Dr. Imaduddin Khalil).
- LEVEL 4 Qira’ah Maudhu’iyah (Tematis): Kajian spesifik yang menjawab kebutuhan sektoral kontemporer, seperti kepemimpinan transformasional, ketahanan keluarga, manajemen geopolitik, hingga etika ekonomi syariah (sebagaimana dirintis Munir Al-Ghadban).
Menjadi Pelaku Sejarah Baru
Membaca Sirah Nabawiyah bukan sekadar kegiatan bernostalgia dengan kejayaan masa lalu, melainkan ikhtiar menggali cetak biru pembangunan peradaban masa depan. Menjadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai teladan visual (Asy-Syakhshiyyah al-Anmuzdajiyyah) adalah tuntutan keimanan untuk membuktikan bahwa Al-Qur’an hidup dalam perilaku nyata.
Tantangan bagi para dai, cendekiawan, dan umat Islam di era disrupsi ini adalah merekonstruksi cara kita membaca sirah: beralih dari sekadar penghafal sejarah menjadi perancang peradaban (makers of history). Hanya dengan cara pembacaan yang komprehensif, kritis, dan tematis inilah, keteladanan Rasulullah ﷺ kembali memimpin peradaban manusia keluar dari kegelapan modernitas menuju cahaya keadilan wahyu.
Oleh: Ustadz Fahmi Salim, Presidium Majelis Arah Indonesia
