Haji; Menuju dan Bersama Allah untuk Bangkit

Telaah buku oleh M. Anwar Djaelani

Judul : Haji; Dari Pemurnian Misi Kenabian ke Revolusi Kebangkitan
Penulis : Fahmi Salim
Penerbit : Al-Fahmu Institute
Tahun terbit : 2026
Tebal : xxxiv + 335 halaman

Buku bertema haji ini merupakan ikhtiar dari penulisnya untuk menghadirkan satu bacaan yang bisa menggerakkan. Menginspirai, terutama bagi kaum Muslimin yang sedang mempersiapkan untuk berhaji. Meski begitu, bagi yang telah dan akan kembali menunaikan ibadah haji juga penting. Bahkan, pendek kata, buku ini berguna bagi siapapun.

Agar apa? Supaya saat menunaikan haji, tidak sekadar menjalani aspek ritual belaka. Ketika berhaji, hendaknya kita menggapai yang lebih dari itu. Tidak semata-mata tuntas dalam soal fikih, namun juga bisa memenuhi harapan agar ketika kembali ke Tanah Air bisa membawa perubahan. Hal ini, bisa dimulai dari lingkup pribadi dan keluarga (h.xxv).

Buku ini melengkapi khazanah kepustakaan tentang haji, terutama dari pemaknaan di balik setiap manasiknya (h.xxv). Sungguh merugi bila pemaknaan atas perjalanan naik haji, tidak dituliskan. Pencatatan ini bisa dilakukan oleh siapa pun, tanpa harus menjadi seorang yang alim dalam ilmu agama.

Inti buku ini, pembahasan tentang haji yang tak sekadar aspek ritual tapi berupa kajian yang mengarah bagi terbukanya sisi kemanusiaan, kemajuan, kebangkitan, hingga kemerdekaan kaum Muslimin. Lebih jauh, lewat buku ini, ada misi yang lebih mendalam yaitu sebagai bagian dari upaya membangunkan kesadaran geopolitik umat Islam, terutama dalam pembebasan Baitul Maqdis dan negeri-negeri Islam.

Melalui buku ini, kesadaran pembaca dihentak agar meniti jalan manusia-manusia pilihan. Di antaranya, dengan penyucian jiwa di balik haji. Semua itu dalam rangka membebaskan negeri-negeri kaum Muslimin dari bentuk-bentuk penjajahan (h.xxvi-xxvii).

Madrasah Agung

Apa haji? Haji berbeda dengan shalat. Kalau shalat kita banyak belajar teori, hafalan bacaan, dan gerakan yang harus dilakukan dengan tertib. Pada shalat, tanpa banyak bergerak, tidak boleh mengobrol, dan tidak boleh pindah-pindah. Semua diatur sejak takbir sampai salam. Begitu juga dengan puasa atau zakat, walaupun memerlukan pengelolaan tapi tidak serumit haji.

Khusus haji, Allah mendidik manusia dengan cara yang berbeda. Haji adalah ibadah yang sifatnya praktik langsung di lapangan. Di sana manusia diuji kesabaran, diuji ketauhidan, serta diuji fisik dan mental. Haji menuntut mobilitas dari satu tempat ke tempat lain, mengatur tempat tinggal, makanan, perjalanan, dan semua perencanaan yang kompleks (h.140-141).

Ibadah haji disebut sebagai puncak warisan Nabi Ibrāhīm As, sebagaimana ibadah qurban yang berasal dari beliau dan putranya—Ismā’īl As. Hal ini menegaskan bahwa syariat Nabi Muhammad Saw bersambung secara otentik dengan ajaran Nabi Ibrāhīm As (h.14).

Apa yang harus disiapkan sebelum berangkat berhaji? Orang yang melaksanakan ibadah haji haruslah memiliki semangat yang tinggi untuk menegakkan kalimatullāh dan menegakkan amar makruf dan nahi mungkar. Harus berani melawan kemungkaran, melawan tirani-tirani, melawan segala bentuk kemusyrikan dan penyesatan yang ada di dalam tubuh umat ini (h.102).

Lihatlah! Rangkaian haji dan qurban adalah untuk menghidupkan spirit Nabi Ibrahim As: tauhid, kepatuhan, membangun keluarga shalih, dan memberi yang terbaik untuk Allah. Inilah pusaka Ibrahim, warisan tauhid yang sampai kepada kita melalui Nabi Muhammad Saw (h.152).

Kebangkitan dimulai dari keluarga. Kalau keluarga baik, anggota keluarga dididik untuk taat kepada Allah dan melawan godaan setan, maka terbentuklah masyarakat yang shalih. Tidak ada masyarakat yang shalih dan kuat tanpa ada keluarga yang shalih dan kuat. Oleh karena itu, melempar jumrah Ūlā, Wusṭhā, dan ‘Aqabah mestinya akan memperkuat tekad. Jadi, melempar jumrah itu menghadirkan makna sebagaimana Nabi Ibrāhīm As, Hājar, dan Ismā‘īl As melempari setan dengan batu. Ada kekuatan tekad, kemampuan untuk melawan setan, dan menjauhi pengaruh-pengaruhnya (h.185-196).

Dengan demikian, pendidikan keluarga yang fokus pada ketahanan moral akan menciptakan generasi yang siap menghadapi tantangan zaman. Mereka, mampu membentengi bahkan menaklukkan jejaring setan. Tentu saja, puncaknya, bisa menjadi agen perubahan untuk kebangkitan umat (h.199).

 

Pesan-Pesan Perjuangan

          Ayat-ayat tentang ibadah haji mengajarkan untuk menyeimbangkan antara kepentingan dunia dan akhirat. Haji bukan hanya urusan akhirat dan ibadah ritual secara vertikal tapi juga memiliki nilai-nilai makna kebaikan-kebaikan horizontal bagi seluruh umat manusia (h.240).

Pakaian ihram, wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga perjalanan ke Mina adalah simbol perjalanan manusia dari kematian, kebangkitan, hingga dikumpulkan di Padang Mahsyar. Semua ini menanamkan kesadaran bahwa kita pasti akan kembali kepada Allah (h.250).

Puncak haji adalah wukuf di Arafah. Allah membangga-banggakan hamba-Nya yang berkumpul di Arafah untuk melaksanakan wukuf. Juga membanggakan hamba-hamba-Nya yang sedang berpuasa pada hari Arafah. Di sebuah hadits, Allah berfirman, “Apalagi yang mereka inginkan pasti akan Aku jawab dan Aku kabulkan” (h.228).

Dengan mengetahui dan memahami keutamaan-keutamaan hari Arafah, mudah-mudahan hati kita gembira, mata hati kita sejuk. Pelajaran bagaimana seorang kepala keluarga mendidik keluarga, yang disimbolkan dalam kisah Nabi Ibrāhīm As bersama istri dan anaknya, dijumpai dalam pelaksanaan haji. Ketika mabit di Muzdalifah, meski dosa—insya Allah—sudah diampuni Allah setelah melakukan wukuf, kita diperintahkan untuk tetap siaga dari godaan setan. Di Muzdalifah kita memungut batu sebanyak 49 butir jika Nafar Awwal atau 70 butir bila Nafar Tsāni untuk melempar jumrah di Mina. Mabit di Mina dan melempar jumrah adalah simbol pendidikan keluarga Nabi Ibrāhīm As. Ayah, ibu, dan anak harus taat kepada Allah, melawan bisikan setan, dan menjaga kontrak tauhid (h.255).

 

Bangkit, Bangkit!

Dari pembahasan di atas, jelas kiranya bahwa rangkaian ibadah haji itu bukan semata-mata ritual simbolis. Sungguh, pada ibadah haji, di dalamnya membawa pesan mendalam bagi individu dan umat. Bahwa, kebangkitan umat dimulai dari penyucian  jiwa, pengorbanan, persatuan, dan keberanian menghadapi segala penghalang kemajuan dengan melandaskan pada Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad Saw. Inilah jalan revolusi sosial yang dihasilkan dari pelaksanaan haji. Bermula dari penyucian jiwa tiap-tiap individu Muslim, masyarakat, bangsa, bahkan dunia (h.273).

Dari pelaksanaan haji, kita sepatutnya belajar dari perjuangan Nabi Ibrahim As dan Nabi Muhammad Saw untuk membangun umat yang terbaik. Caranya, dengan memperbaiki kehidupan umat, saling menasihati, dan terus-menerus beramal makruf nahi mungkar demi merealisasikan janji Rasulullah Saw bahwa di akhir zaman kita akan menjadi umat pemenang dan bukan sebagai umat pecundang (h.261).

Buku bertema haji ini bermanfaat bagi semua umat Islam, baik yang telah, sedang, dan akan menunaikan haji ataupun umrah. Harapannya, semua pelajaran yang kita dapat selama beribadah di Tanah Suci (terutama di Masjid al-Haram dan Masjid Nabawi), lalu secara terus-menerus kita koneksikan dengan Masjid al-Aqsha beserta para pejuangnya yang tak henti-henti memberikan banyak keteladanan di medan pembebasan atas penjajahan (h.xxiv).

Semoga ikhtiar melalui buku ini dari sang ulama muda, Fahmi Salim, benar-benar bisa membawa kemanfaatan bagi para pembaca. Bermanfaat, mulai dari hadirnya pemahaman, kesadaran, hingga keterlibatan bersama-sama dalam mengangkat harkat agama ini demi terbebasnya tanah-tanah umat Islam, khususnya Baitul Maqdis (h.xxvii). Bismillah, Allahu -Akbar! []

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Leave a Reply

×