
Jakarta — Al Fahmu Institute menggelar Kajian Halaqah Rabuan UFS bertema “Haji dan Ketahanan Keluarga” pada Rabu malam (06/05/2026) secara daring melalui Zoom Meeting dan disiarkan ulang melalui kanal YouTube resmi. Halaqah Rabuan UFS perdana ini dipandu oleh Muhaimin Abu Kayyis sebagai host dan menghadirkan Ust. Fahmi Salim, Lc., MA. sebagai narasumber utama.
Dalam suasana hangat namun penuh keprihatinan terhadap kondisi umat hari ini, kajian membahas bagaimana keluarga menjadi titik sentral dalam menjaga peradaban Islam di tengah derasnya arus kerusakan moral dan ideologi modern.
Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim

Pada awal penyampaian, Ust. Fahmi Salim menegaskan bahwa keluarga Nabi Ibrahim ‘alaihissalam merupakan model keluarga tangguh sepanjang zaman. Nabi Ibrahim disebut sebagai uswatun hasanah—teladan terbaik—karena keberhasilannya membangun keluarga yang kokoh dalam tauhid, pengorbanan, dan kesabaran menghadapi ujian.
Beliau menjelaskan bahwa kekuatan keluarga Ibrahim tidak lahir dari kenyamanan hidup, melainkan dari kesatuan peran ayah, ibu, dan anak dalam menghadapi cobaan dengan iman yang teguh.
“Ketahanan keluarga dibangun dengan kesatuan visi menuju Allah. Ayah memimpin, ibu menopang iman keluarga, dan anak tumbuh dalam nilai-nilai ketaatan,” jelasnya.
Rumah Tangga Adalah Medan Pertempuran Pertama
Dalam kajian tersebut, Ust. Fahmi menekankan bahwa rumah tangga adalah garis pertahanan pertama umat sebelum masyarakat luas.
Beliau mengingatkan bahwa tantangan terbesar umat hari ini justru masuk melalui rumah:
- media sosial yang tidak terkontrol,
- budaya hedonisme,
- individualisme,
- kampanye seks bebas,
- ideologi feminisme liberal,
- hingga penyebaran ideologi LGBT dan berbagai pemikiran menyimpang.
Menurutnya, kerusakan moral generasi tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi melalui proses panjang yang dimulai dari melemahnya peran keluarga.
“Jika keluarga runtuh, maka masyarakat pun akan mudah runtuh. Karena itu kebangkitan umat harus dimulai dari rumah,” tegas beliau.
“Jumrah Modern”: Strategi Pertahanan Keluarga
Menggunakan analogi ibadah haji, Ust. Fahmi memperkenalkan konsep “jumrah modern” sebagai simbol perlawanan keluarga muslim terhadap godaan zaman.
Beberapa strategi yang ditekankan antara lain:
- penanaman tauhid sejak dini,
- penguatan akhlak dan syariah,
- pengawasan penggunaan teknologi dan media sosial,
- dialog terbuka dengan anak,
- penegasan batas halal dan haram,
- serta pemilihan lingkungan pendidikan yang aman dan terjaga.
Beliau juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak menghadapi era digital.
“Orang tua hari ini tidak cukup hanya memberi fasilitas. Mereka harus menjadi penjaga moral, penjaga akidah, dan pendamping kehidupan anak-anaknya,” ujarnya.
Sorotan Tanya Jawab: Kasus Kekerasan Seksual dan Penjagaan Generasi
Pada sesi tanya jawab, peserta menyoroti berbagai persoalan aktual yang sedang menjadi perhatian masyarakat, termasuk kasus dugaan penyimpangan seksual oleh tokoh agama berinisial SAM.
Menanggapi hal tersebut, Ust. Fahmi menyampaikan bahwa kejahatan seksual yang dilakukan tokoh agama merupakan pengkhianatan besar terhadap amanah umat dan harus diproses secara hukum tanpa pandang bulu.
“Tokoh agama yang melakukan kejahatan seksual seharusnya dihukum lebih berat karena merusak kepercayaan umat,” tegasnya.
Beliau juga menekankan pentingnya pendidikan perlindungan diri kepada anak sejak dini serta membangun budaya critical thinking di pesantren dan sekolah agar generasi muda tidak mudah menjadi korban manipulasi.
Dalam pertanyaan lain terkait gerakan perusak moral generasi, beliau menjelaskan bahwa upaya menjaga ketahanan keluarga tidak cukup hanya dengan ceramah agama, tetapi memerlukan sinergi antara keluarga, pendidikan, pemerintah, penegakan hukum, dan lembaga negara.
Kebangkitan Umat Dimulai dari Rumah
Di akhir kajian, Ust. Fahmi Salim menyampaikan pesan mendalam bahwa rumah muslim harus menjadi “Mina modern”, tempat keluarga melatih diri melawan berbagai godaan zaman dengan “batu-batu iman”.
“Keluarga harus menjadi benteng yang menang, bukan benteng yang runtuh,” pungkasnya.
Kajian ditutup dengan ajakan kepada seluruh peserta untuk kembali memperkuat peran keluarga sebagai pusat pendidikan iman, akhlak, dan peradaban Islam demi melahirkan generasi yang siap menjaga agama dan membangun kebangkitan umat di masa depan.
Halaqah Rabuan UFS diselenggarakan oleh Al-Fahmu Institute rutin setiap Rabu malam kamis, eksklusif dan para peserta bisa interaktif berdialog tanya jawab langsung dengan Ust. Fahmi Salim, selaku da’i nasional yang produktif menulis berbagai karya tulis ilmiah dan populer dengan tema keislaman, dakwah dan pemikiran Islam. Untuk menjadi member kajian halaqah rutin bisa mendaftar via admin kajian: 📲 0877-9672-6466
