Indonesia Didorong Jadi Episentrum Baru Dunia Islam – Ustadz Fahmi Salim Sambut Baik Rencana Pembentukan Dirjen Kerja Sama Dunia Muslim di Kemenlu

YOGYAKARTA – Suasana diskusi terbatas yang digelar Kementerian Luar Negeri RI di Hotel Tentrem, Yogyakarta, Kamis (28/8/2025), terasa hangat sekaligus penuh gagasan besar. Forum yang bertajuk “Mengintegrasikan Indonesia dan Dunia Islam: Arah, Kerangka, dan Peta Jalan” itu menghadirkan para akademisi, peneliti, dan tokoh Islam. Salah satu narasumber yang mencuri perhatian adalah Ustadz Fahmi Salim, pendiri Al-Fahmu Institute sekaligus Direktur Baitul Maqdis Institute.

Dalam forum yang membahas rencana pembentukan Direktorat Jenderal Kerja Sama Dunia Muslim di Kemenlu RI itu, Fahmi Salim—akrab disapa UFS—menyampaikan tiga poin kunci yang menurutnya menentukan arah masa depan Indonesia dalam percaturan dunia Islam.

Sejarah yang Berubah Arah

Fahmi mengawali presentasinya dengan menegaskan bahwa pusat dunia Islam tidak lagi mutlak berada di kawasan Arab. “Sejak runtuhnya Dinasti Abbasiyah, episentrum dunia Islam bergeser ke bangsa Turki, Persia, dan India hingga runtuhnya Khilafah Utsmaniyah pada 1924. Arab baru kembali menjadi pusat dunia Islam karena rekayasa kolonial Barat,” jelasnya.

Menurut Fahmi, kondisi saat ini membuka peluang bagi kawasan Melayu-Nusantara, termasuk Indonesia, untuk tampil sebagai episentrum baru dunia Islam di abad ke-16 Hijriah.

Posisi Geostrategis yang Terlupakan

Poin kedua, Fahmi menyoroti posisi strategis Indonesia dalam jalur distribusi komoditas internasional. Dari delapan selat dan terusan penting dunia, tujuh berada di kawasan dunia Islam, termasuk Selat Malaka di wilayah Indonesia.

“Sayangnya Indonesia belum mengkapitalisasi posisi strategis ini untuk memperkuat peran sebagai episentrum dunia Islam sekaligus maritim global,” katanya, menekankan pentingnya visi besar kebijakan luar negeri yang terintegrasi.

Kinerja Global Jadi Tolok Ukur

Dalam poin ketiga, Fahmi mengingatkan bahwa status Indonesia sebagai pusat dunia Islam tidak bisa hanya bertumpu pada faktor demografis atau geografis atau keunikan kultur Islamnya. “Harus ada kinerja nyata dalam ekonomi, perdagangan, sains-teknologi, dan militer. Tanpa prestasi global, klaim episentrum dunia Islam hanya akan menjadi retorika,” tegasnya.

Antusiasme untuk Dirjen Kerja Sama Dunia Muslim

Fahmi menyambut baik inisiatif Kemenlu RI untuk membentuk Dirjen Kerja Sama Dunia Muslim. Menurutnya, langkah ini sangat penting untuk memperkuat diplomasi Indonesia di dunia Islam sekaligus meneguhkan peran Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia.

Dalam forum tersebut, Fahmi memaparkan paper setebal 63 halaman yang disiapkan tim Al-Fahmu Institute, sebelum acara ditutup dengan ramah tamah dan sesi foto bersama.

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Leave a Reply

×