Fajar Setelah Senja; Masa Depan Peradaban “Masih” Milik Islam (Bagian 3)

Menyiapkan Arsitek Peradaban Baru

Setiap orang menyukai kisah tentang kebangkitan. Namun tidak semua orang bersedia menjalani proses panjang yang melahirkannya.

Sejarah sering kali hanya mengingat puncak sebuah peradaban, tetapi melupakan masa-masa sunyi ketika fondasinya sedang dibangun. Kita mengagumi kemegahan Madinah, Damaskus, Cairo, Baghdad, Cordoba, Granada, Isfahan atau Istanbul, tetapi jarang merenungkan bahwa semua itu bermula dari sekelompok manusia yang terlebih dahulu membangun dirinya sebelum membangun dunia.

Inilah sunnatullah yang tidak pernah berubah.

Allah tidak membangun peradaban secara instan. Allah membangun manusia, lalu melalui manusia itulah sejarah diubah.

Karena itu, ketika Rasulullah ﷺ berbicara tentang masa depan Islam, perhatian beliau tidak pernah berhenti pada persoalan kekuasaan. Yang beliau bangun pertama kali adalah manusia. Selama tiga belas tahun di Makkah, hampir seluruh energi dakwah diarahkan untuk melahirkan generasi yang kokoh akidahnya, jernih pikirannya, bersih jiwanya, dan mulia akhlaknya. Negara Madinah hanyalah buah yang tumbuh dari akar yang telah lama ditanam.

Pelajaran itu tetap relevan hingga hari ini.

Jika umat Islam benar-benar sedang menanti lahirnya fase baru peradaban, maka pertanyaan yang paling mendesak bukanlah kapan janji itu datang, melainkan apakah kita sedang mempersiapkan manusia yang layak memikulnya.

Pertama: Peradaban Selalu Dimulai dari Ilmu

Bekal pertama adalah membangun tradisi ilmu. Tidak ada peradaban besar yang lahir dari masyarakat yang malas berpikir. Semua kebangkitan selalu diawali oleh revolusi pengetahuan. Perubahan besar tidak pertama-tama terjadi di jalanan atau di pusat kekuasaan; ia lahir di ruang-ruang belajar, perpustakaan, laboratorium, majelis ilmu, dan dalam akal manusia yang terus mencari kebenaran.

Itulah sebabnya wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad ﷺ bukanlah perintah untuk berperang, memerintah, atau membangun negara. Perintah pertama adalah: “Iqra’…” — Bacalah.

Membaca dalam pengertian Islam bukan sekadar mengeja huruf. Ia adalah aktivitas intelektual yang menghubungkan manusia dengan wahyu, dengan alam semesta, dengan sejarah, dan dengan dirinya sendiri. Membaca berarti memahami hukum-hukum Allah yang tertulis dalam Al-Qur’an sekaligus yang terbentang di jagat raya.

Namun ilmu yang dibutuhkan umat bukanlah ilmu yang kehilangan arah moral.

Peradaban modern telah memperlihatkan kepada kita bahwa ilmu yang dipisahkan dari nilai-nilai ketuhanan dapat berubah menjadi instrumen eksploitasi. Kecerdasan buatan dapat menjadi alat manipulasi. Bioteknologi dapat digunakan untuk kepentingan komersial yang mengabaikan kemaslahatan. Penelitian ilmiah dapat dibiayai bukan demi menyembuhkan manusia, melainkan demi memperbesar keuntungan atau memperkuat dominasi geopolitik.

Karena itu, kebangkitan Islam tidak cukup hanya melahirkan lebih banyak sarjana. Yang dibutuhkan adalah lahirnya ilmuwan yang memiliki integritas moral, keberanian intelektual, dan orientasi kebermanfaatan. Ilmu harus kembali menjadi jalan menuju kemaslahatan, bukan sekadar instrumen kekuasaan.

Kedua: Akhlak adalah Fondasi yang Tak Tergantikan

Ilmu saja tidak cukup. Sejarah menunjukkan bahwa banyak peradaban runtuh bukan karena kekurangan ilmuwan, melainkan karena kehilangan akhlak. Ketika keserakahan mengalahkan amanah, ketika kekuasaan mengalahkan keadilan, dan ketika hawa nafsu mengalahkan hikmah, maka keruntuhan hanya tinggal menunggu waktu.

Karena itu, Islam selalu meletakkan tazkiyatun nafs—penyucian jiwa—sebagai pasangan dari ilmu. Kecerdasan tanpa akhlak melahirkan tirani yang lebih canggih. Sebaliknya, spiritualitas tanpa ilmu mudah berubah menjadi semangat yang kehilangan arah.

Peradaban Islam tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang cerdas, tetapi oleh orang-orang yang memadukan keluasan ilmu dengan kedalaman iman. Mereka adalah pribadi-pribadi yang menjadikan ibadah sebagai sumber kekuatan moral, bukan sekadar ritual individual.

Inilah pelajaran besar dari generasi sahabat. Mereka tidak hanya menguasai ilmu, tetapi juga memiliki karakter yang membuat ilmu itu membawa keberkahan bagi masyarakat.

Ketiga: Menjadi Mujaddid dalam Bidang Masing-Masing

Bekal berikutnya adalah kompetensi. Setiap zaman memiliki tantangannya sendiri. Karena itu, setiap Muslim dipanggil untuk menjadi ahli dalam bidang yang Allah amanahkan kepadanya: pendidikan, ekonomi, teknologi, kesehatan, pertanian, hukum, media, seni, diplomasi, maupun bidang-bidang lainnya.

Namun Islam tidak menghendaki umatnya sekadar menjadi profesional yang mengikuti arus zaman. Yang dibutuhkan adalah lahirnya para mujaddid—pembaru—yang mampu menghadirkan kembali nilai-nilai Islam dalam disiplin ilmu yang mereka tekuni.

Di sinilah tantangan terbesar generasi Muslim modern.

Di satu sisi terdapat kecenderungan yang membekukan Islam dalam romantisme sejarah. Mereka mengira bahwa solusi terhadap persoalan kontemporer cukup dengan mengulang bentuk-bentuk masa lalu tanpa mempertimbangkan perubahan ruang dan waktu.

Di sisi lain terdapat kecenderungan yang larut dalam arus modernitas hingga kehilangan keberanian mempertahankan prinsip-prinsip dasar Islam. Demi dianggap relevan, agama justru disesuaikan dengan setiap perubahan budaya, seolah-olah wahyu harus tunduk kepada selera zaman.

Kedua pendekatan itu sama-sama bermasalah. Yang pertama kehilangan daya hidup. Yang kedua kehilangan identitas.

Islam menawarkan jalan yang lebih arif. Nilai-nilainya bersifat tetap, tetapi penerapannya menuntut kreativitas, ijtihad, dan kemampuan membaca realitas. Al-Qur’an memberikan fondasi etik yang kokoh, sementara manusia dituntut untuk terus berinovasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan tata kelola kehidupan.

Di sinilah makna sejati tajdid: bukan mengganti fondasi agama, melainkan menghidupkan kembali ruhnya agar terus mampu menjawab tantangan setiap zaman.

Keempat: Jangan Kehilangan Energi pada Pertempuran Semu

Masalah lain yang sering melemahkan umat adalah kegemarannya menghabiskan energi untuk konflik-konflik yang tidak produktif.

Media sosial mempercepat gejala ini. Perdebatan tentang tokoh-tokoh masa lalu, konflik mazhab, atau polemik yang tidak menyentuh persoalan riil sering kali lebih ramai daripada diskusi tentang kualitas pendidikan, pengembangan riset, pemberdayaan ekonomi, atau inovasi teknologi.

Padahal, umat yang besar tidak dibangun oleh perdebatan tanpa akhir. Ia dibangun oleh karya.

Sejarah memang penting dipelajari, tetapi bukan untuk menghidupkan kembali permusuhan yang telah lama berakhir. Dinasti Umayyah, Abbasiyah, maupun Utsmaniyah adalah bagian dari perjalanan panjang umat yang menyimpan banyak pelajaran. Kita menghargai jasa-jasa mereka, belajar dari keberhasilannya, dan mengambil hikmah dari kekurangannya.

Namun teladan utama umat Islam tetaplah Rasulullah ﷺ dan Khulafaur Rasyidin. Dari merekalah kita memperoleh prinsip-prinsip yang bersifat universal: keadilan, amanah, musyawarah, pelayanan kepada rakyat, penghormatan terhadap ilmu, dan keberpihakan kepada kemaslahatan.

Masa depan tidak dibangun dengan memperpanjang pertengkaran masa lalu. Masa depan dibangun dengan menghadirkan solusi bagi persoalan hari ini.

Amar Ma’ruf Terbesar pada Zaman Ini

Dalam konteks itulah, amar ma’ruf nahi munkar memperoleh makna yang lebih luas.

Amar ma’ruf bukan sekadar mengoreksi kesalahan individu. Ia juga berarti membangun kesadaran kolektif masyarakat. Menyebarkan ilmu, meluruskan cara berpikir, menghidupkan budaya membaca, menguatkan etos kerja, membangun lembaga pendidikan yang bermutu, memperkuat keluarga, serta menciptakan ruang publik yang sehat—semuanya merupakan bentuk amar ma’ruf dalam arti yang paling strategis.

Perubahan besar selalu didahului oleh perubahan cara berpikir masyarakat. Ketika kesadaran berubah, kebijakan akan berubah. Ketika kebijakan berubah, institusi akan berubah. Dan ketika institusi berubah, wajah peradaban pun ikut berubah.

Fajar Setelah Senja

Pada akhirnya, sejarah Islam mengajarkan sebuah optimisme yang realistis.

Optimistis, karena Allah telah menjanjikan bahwa agama ini akan terus hidup dan memberi petunjuk bagi manusia. Realistis, karena janji itu tidak membebaskan umat dari kewajiban untuk berikhtiar.

Mungkin kita memang sedang hidup pada masa ketika langit dunia tampak dipenuhi mendung. Krisis demi krisis datang silih berganti, seakan-akan menutup seluruh cakrawala harapan.

Namun justru di dalam sejarah, fajar selalu lahir setelah malam mencapai titik tergelapnya.

Karena itu, pertanyaan terbesar bagi umat Islam hari ini bukanlah: “Kapankah janji Allah akan terwujud?” Janji-Nya tidak pernah gagal.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah: Ketika lembaran baru peradaban Islam mulai ditulis, apakah kita telah mempersiapkan diri menjadi penulisnya, atau hanya menjadi penonton yang sibuk memperdebatkan masa lalu sementara masa depan sedang dibangun oleh generasi lain?

Di situlah sesungguhnya letak pilihan sejarah setiap Muslim.

Allah telah menetapkan sunnatullah tentang pergiliran zaman. Peradaban datang dan pergi. Bangsa-bangsa bangkit dan kemudian meredup. Namun satu hukum tidak pernah berubah: yang akan bertahan bukanlah yang paling kuat menindas, melainkan yang paling besar manfaatnya bagi manusia.

Maka, jika umat Islam benar-benar ingin kembali menghadirkan dirinya sebagai rahmatan lil-‘ālamīn, kebangkitan itu tidak boleh dimulai dengan kebanggaan terhadap masa lalu semata, tetapi dengan keberanian membangun masa depan—melalui ilmu yang mencerahkan, akhlak yang memuliakan, inovasi yang menyejahterakan, dan pengabdian yang menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia.

Di sanalah fajar peradaban itu bermula.

Penulis: Oleh KH. Fahmi Salim, Presidium Majelis Arah Indonesia (MAI)

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Leave a Reply

×